Sunday, 28 May 2017

Seperti Melempar Bola Ke Dinding

Hidup ini seperti melempar bola ke dinding.” (Mak Eros dalam Sinetron Dunia Terbalik RCTI)
Kutipan di atas adalah salah satu dialog sarat makna yang saya suka dalam Sinetron Dunia Terbalik. Sebuah nasehat yang disampaikan oleh Mak Eros pada cucu-nya si Dedeh manis. Mak Eros mengingatkan pada cucunya itu bahwa hidup ini tak ubahnya seperti melepar bola ke dinding. Bola yang kita lempar akan kembali pada kita. Semakin keras kita melempar bola itu, maka akan semakin keras juga ia kembali pada kita.
Mak Eros dan Dedeh (credit: pictaram.com)
Setiap masalah, kebaikan atau apapun yang kita lemparkan pada orang lain suatu saat akan kembali pada kita. Semakin keras kita melemparkannya maka akan semakin keras juga ia kembali. Satu kebaikan yang kita lemparkan pada kehidupan orang lain akan kembali dalam bentuk kebaikan-kebaikan yang sama atau bahkan lebih dalam kehidupan kita. Demikian juga ketika kita melemparkan satu masalah dalam kehidupan orang lain, bersiaplah menerima lemparan masalah dalam kehidupan kita.
Ini bukan balas dendam, bukan juga karma. Namun, ini adalah sunnatullah yang berjalan secara alami dalam kehidupan ini. Para orang tua kita sudah mengamati, mengalami, mempelajari dan mengingat sunnatullah ini sepanjang usia mereka. Apa yang mereka ketahui, rasakan dan yakini tentang sunnatullah itulah yang kemudian hadir dalam bentuk nasehat-nasehat bijak yang disampaikannya pada kita anak cucunya. Namun terkadang kita abai dan cenderung menutup telinga dari nasehat-nasehat tersebut.
“Hidup itu seperti melempar bola ke dinding.”
Sebuah tamsil yang indah dan syarat makna. Mak Eros yang selalu tampil dengan wajah ucapan dan mimik waja serius seakan ingin mengingatkan kita agar berhati-hati dalam berucap, bersikap dan bertindak. Karena semua itu akan menjadi investasi dan semua akan kembali pada kita. Boleh jadi kita akan menerimanya di dunia, dan mungkin juga akan diterima di akhirat.
“Hidup ini seperti melempar bola ke dinding. Apa yang kamu lemparkan akan kembali pada dirimu”
Nasehat indah dari Mak Eros ini ngena banget dan sangat pantas untuk direnungkan. Boleh jadi, kebaikan yang kita terima saat ini adalah pantulan dari kebaikan-kebaikan yang kita lemparkan pada sesama. Demikian juga dengan masalah dan hal-hal buruk yang hadir dalam kehidupan kita hari ini tidak menutup kemungkinan itu semua merupakan pantulan dari masalah dan keburukan yang kita lemparkan pada kehidupan orang lain. Yah, hidup hidup ini sederhana, jika kita menginginkan selalu berada dalam atmosfer kebaikan maka lemparkanlah sebanyak-banyaknya kebaikan pada sesama. Jika tidak maka jangan salahkan takdir jika kemudian kita terperangkap pada atmosfer yang sebaliknya.
Ya, hidup ini sederhana tidak ubahnya seperti melempar bola ke dinding.

Friday, 19 May 2017

Menjemput Ilmu dengan Adab [NHW #1 MIIP Batch 4]

Barangsiapa menimba ilmu semata-mata ingin mendapatkan ilmu tersebut, maka ilmu tersebut tidak akan bermanfaat baginya. Namun, barangsiapa yang menuntut ilmu karena ingin mengamalkan ilmu tersebut, niscaya ilmu yang sedikitpun akan bermanfaat baginya.” (Tim Matrikulasi IIP)

Suatu kebahagiaan tersendiri bisa mengikuti program matrikulasi IIP Batch 4 ini. Dari awal saya sudah bisa merasakan bagaimana nikmatnya menyeruput ilmu dan berkumpul dengan ibu-ibu luar biasa dalam program matrikulasi batch #4. Saya pecinta ilmu. Menyeruput ilmu dan berkumpul dengan para pecinta ilmu adalah kenikmatan tersendiri bagi saya. Berada dalam sebuah komunitas yang di dalamnya membicarakan ide dan ilmu bagaikan bertamasya di taman-taman surga.

Namun tahukah Anda? Ternyata kecintaan saya pada ilmu, kegemaran saya menuntut ilmu dan kebagiaan saya berkumpul dengan para pecinta ilmu langsung mendapat sentilan pada materi 1 program matrikulasi ini.

Materi yang disampaikan pada minggu pertama program matrikulasi IIP Batch #4 ini adalah ‘Adab Menuntut Ilmu’. Kutipan di awal tulisan ini merupakan salah satu quote yang menampar hati kecil saya. Quote favorit yang langsung mencuri perhatian dan membuat saya berfikir dan kembali bertanya pada diri sendiri, apa sih tujuan saya mencari ilmu selama ini? Saya begitu senang mengikuti berbagai majlis ilmu dari dulu. Mencari ilmu adalah salah satu hobi yang menjadi candu bagi saya. Dari yang gratisan hingga berbayar, offline ataupun online, melalui lembaga formal hingga non formal pernah saya ikuti. Namun, dari semua itu seberapa banyak sih yang sudah benar-benar saya amalkan?

Masya Allah, saya benar-benar merasa ditampar bolak-balik. Apa yang saya harapkan dari kegemaran menuntut ilmu ini? Apakah hanya sekedar kebanggaan agar dikenal sebagai orang yang berilmu? Nauzubillah!


Adab Sebelum Ilmu, Haruskah?


Ya, haruskah menjemput ilmu dengan adab? Melalui materi 1 matrikulasi ini saya diingatkan pentingnya menjaga adab dalam menuntut ilmu. Memang sih, adab tidak menentukan banyak sedikitnya ilmu yang dapat kita serap dalam proses belajar. Akan tetapi, adab berpengaruh terhadap keberkahan ilmu tersebut bagi diri kita.

Adab dalam menuntut ilmu di sini dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu adab terhadap diri sendiri, adab terhadap penyampai ilmu dan adab terhadap sumber ilmu. Salah satu hal yang menarik bagi saya adalah adab terhadap sumber ilmu. Di sini saya diingatkan untuk memperlakukan sumber ilmu dengan baik, meskipun sumber ilmu tersebut bukan mahluk hidup. Contohnya buku. Selama ini saya terbiasa meletakkan buku yang sedang saya pelajari di mana saja. Terkadang di meja bahkan di lantai. Padahal, salah satu adab terhadap sumber ilmu adalah tidak meletakkan atau memperlakukan sumber ilmu (buku) tersebut sembarangan.


Amal Sebagai Bukti Keberkahan Ilmu

Satu hal yang saya pahami dari materi ‘Adab Menuntut Ilmu’ ini adalah bukan banyaknya ilmu yang membuat kita mulia. Kemuliaan akan lahir dari setiap ilmu yang mampu diamalkan. Amal adalah buah ilmu yang tampak dan memberi manfaat bagi kehidupan. So, jangan bangga dengan banyaknya ilmu yang sudah dimiliki. Karena ilmu adalah amanah yang akan dimintai pertanggung jawabannya kelak di akhirat. Akan tetapi berbahagialah ketika mampu mengamalkan setiap ilmu yang dimiliki. Karena di sanalah letak keberkahan ilmu. Setiap ilmu yang berhasil diamalkan akan membuka pintu-pintu ilmu yang lain. Sehingga, ilmu yang kita miliki akan semakin berkembang dan bermanfaat.


Nice Home Work #1 MIIP Batch 4

Akhirnya sampailah pada Nice Home Work (NHW) #1 Matrikulasi IIP Batch 4. Ada empat pertanyaan yang diajukan oleh Tim Fasilitator Matrikulasi IIP Batc 4 ini, meliputi: jurusan ilmu yang ditekuni, alasan memilih jurusan tersebut, strategi menuntut ilmu, dan perubahan sikap apa yang akan diperbaiki dalam menuntut ilmu tersebut.

Sejatinya, ada banyak bidang ilmu yang ingin saya kuasai. Basic saya pertanian dan sangat menyenangi ilmu bercocok tanam. Di lain sisi saya juga punya minat yang besar pada dunia literasi dan hobi internetan. Saya gemar membaca dan sangat senang menulis. Memiliki expert di bidang literasi adalah salah satu impian yang terus saya tanamkan sejak kecil hingga saat ini. Jadi, di sini saya memutuskan untuk menekuni jurusan ini ke depannya.

Alasannya? Banyak alasan kuat mengapa saya ingin menekuni dunia literasi, diantaranya:

1.      Membaca dan menulis adalah hobi saya.

2.      Saya tidak ahli berbicara, karenanya saya ingin berbagi ilmu dan pengalaman yang saya miliki pada orang lain melalui setiap karya tulis yang saya hasilkan.

3.      Salah satu doa yang selalu saya lantunkan adalah saya berharap Allah ridho menjadikan dunia literasi sebagai ladang dakwah dan maisyah bagi saya.

Adapun strategi menuntut ilmu yang saya terapkan diantaranya:

1.      Bergabung dalam komunitas menulis, saat ini masih komunitas menulis online.

2.      Mengikuti training menulis online dan offline.

3.      Mengikuti berbagai lomba menulis.

4.      Terhubung dengan orang-orang yang memiliki minat yang sama.

5.      Berlatih menulis 15 menit setiap hari.

Sikap menunjukkan seberapa baik adab kita dalam menuntut ilmu. Jadi, perubahan sikap merupakan hal yang mutlak dilakukan agar ilmu yang diperoleh berkah. Dan, berikut adalah lima perubahan sikap yang saya prioritaskan dalam menuntut ilmu:

1.      Tidak memperlakukan atau meletakkan sumber ilmu berupa buku sembarangan.

2.      Bertekad untuk meninggalkan kebiasaan menunda-nunda pekerjaan.

3.      Fokus hanya mengikuti satu training menulis dalam satu waktu.

4.      Lebih terbuka dan berbesar hati menerima kritikan.

5.      Mempelajari ilmu hingga tuntas, tidak setengah-setengah.

Menuntut ilmu adalah sebuah ikhtiar panjang untuk terus memperbaiki diri. Tidak ada kata selesai untuk belajar. Sebagaimana Rasul Saw mengajarkan pada kita bahwa menuntut ilmu itu sepanjang hayat. Dari buaian hingga ke liang lahat. Karenanya, memperhatikan adab dalam menjemput ilmu menjadi landasan pacu kita dalam berlari menuntut ilmu. Agar ilmu yang diperoleh berkah dan memberi kebermanfaatan bagi diri, keluarga, lingkungan dan ummat. Baik di dunia maupun di akhirat kelak.


Menjejali Anak SD dengan Les Tambahan?

Tema CollabBlogging pekan ketiga ini bagi saya cukup sulit yakni tentang perlu menjejali anak SD dengan les tambahan? Mengingat saya be...