Sunday, 8 October 2017

Menjejali Anak SD dengan Les Tambahan?



Tema CollabBlogging pekan ketiga ini bagi saya cukup sulit yakni tentang perlu menjejali anak SD dengan les tambahan? Mengingat saya belum punya pengalaman yang mumpuni terkait hal itu. Saya belum pernah berada di posisi sebagai orang tua yang punya anak usia SD. Saya juga bukan pakar tumbuh kembang anak yang punya kapasitas untuk berbicara tentang boleh atau tidak bolehnya menjejali anak usia SD dengan les tambahan.
Les Tambahan untuk Anak SD

Namun, berhubung blog post trigger CollabBlogging group Yohana Susana yang ditulis Mbak Hanny Nursanti pekan ketiga membahas topik ini, jadi mau tidak mau saya harus menulis postingan tanggapan. Tentunya tanggapan ini adalah dari sudut pandang saya yang masih fakir ilmu. Semoga tanggapan dalam postingan ini tidak terkesan sok tau hehe....
Btw, setiap orang tua pasti punya alasan tersendiri ketika memutuskan untuk memberikan les tambahan pada anak-anaknya. Mungkin karena melihat ada anak tertinggal dalam memahami mata pelajaran tertentu, sehingga diperlukan les tambahan untuk mengejar ketertinggalan itu. Mungkin juga karena melihat ada bakat anak yang perlu support les tambahan. Atau mungkin juga karena keinginan dari si buah hati sendiri.
Menjejali anak SD dengan les tambahan menurut hemat saya sih boleh saja. Namun, sebelum memutuskan untuk menjejali anak dengan les tambahan ada baiknya kita mempertimbangkan berbagai hal. Diantaranya yaitu:

Bakat dan Minat Anak
Les tambahan yang diberikan pada anak hendaknya menunjang bakat dan minat anak. Jangan sampai kita memaksakan anak untuk mengikuti les tambahan yang tidak seiring dengan bakat dan minat mereka. Sebab, ketika kita memaksakan anak mengikuti les yang tidak diminatinya dikhawatirkan hal tersebut justru akan menjadi beban bagi mereka. Hasil yang diharapkan dari les tambahan tersebut pun tidak sesuai dengan yang diharapkan.


Waktu Istirahat dan Bermain Bagi Anak

Yap, menjejali anak dengan les tambahan dikhawatirkan merenggut waktu bermain dan istirahat anak. Nah, ini perlu menjadi pertimbangan penting bagi orang tua sebelum menjejali anak dengan berbagai les tambahan. Sudah kah kita memberikan ruang waktu bagi anak untuk bermain dan istirahat? Ingat anak bukan orang dewasa yang kuat dipressur dengan berbagai agenda. Anak juga bukan robot yang siap beroperasi sepanjang waktu. Anak adalah anak yang membutuhkan ruang dan waktu untuk bermain. Dunia mereka adalah dunia bermain. Bermain mereka adalah belajar, belajar mereka lebih mengasyikkan sambil bermain. Tidak hanya itu, anak-anak juga sebaiknya diberi waktu istirahat yang cukup.

Kemampuan Akademik Anak di Sekolah
Nah kemampuan akademik anak di sekolah juga perlu dipertimbangkan. Coba perhatikan perkembangan akademik anak di sekolah. Di mata pelajaran apa anak-anak bermasalah? Mengapa mereka bermasalah di matapelajaran tersebut? Jika memang diperlukan kita bisa memberikan les tambahan untuk anak khusus untuk mata pelajaran tersebut.

Pendapat dari Guru Anak di Sekolah
Sempatkan waktu untuk berkonsultasi dengan guru anak-anak di sekolah. Sebagaimana dimaklumi, guru adalah pihak yang selalu memantau perkembangan anak-anak kita. Ada baiknya kita meminta pendapat mereka tentang hal-hal yang perlu dipertimbangkan untuk menunjang tumbuh kembang anak. Termasuk dalam hal memutuskan untuk memberikan les tambahan bagi anak atau tidak.

Dengan kata lain sebelum menjejali anak dengan les tambahan, pastikan bahwa kita sudah mengenal kebutuhan anak dengan baik. Pastikan bahwa keputusan kita memberikan les tambahan adalah keputusan yang tepat. Tidak hanya sekedar gengsi atau mengikuti tren yang sedang berkembang. Akan tetapi benar-benar mampu melejitkan bakat, minat dan kemampuan akademik anak. Selain itu, les tambahan jangan sampai menjadi beban bagi anak. Melainkan menjadi kegiatan yang disenangi dan diikuti oleh anak dengan penuh semangat.


Note:
Tulisan ini merupakan tanggapan dari tulisan Mbak Hanny Nursanti di web KEB berjudul Anak SD Dijejali Banyak Les? dalam program Collaborative Blogging KEB Grup Yohana Susana


Wednesday, 13 September 2017

Taman Kota, Ruang Publik yang Dirindukan!



Tidak berbeda jauh dengan kota-kota besar, Ruang Terbuka Hijau juga mulai sulit ditemukan di kota-kota kecil seperti kota kecamatan. Peranap salah satu contohnya. Peranap merupakan salah satu Ibu Kota Kecamatan di Kabupaten Indragiri Hulu. Sepanjang jalan kita bisa melihat bangunan-bangunan yang berjejer semakin rapat. Rumah dan ruko terus bertambah setiap waktunya. Beruntung di sudut-sudut kota kita masih bisa menemukan pemandangan hijau perkebunan berupa hamparan perkebunan karet dan semak-semak. Halaman rumah warga rata-rata masih luas dan bisa menjadi arena bermain dan berinteraksi yang nyaman bagi anak-anak.
www.kompas.com
 Meskipun demikian menurut hemat saya kota kecamatan pun perlu mempertimbangkan keberadaan taman kota sebagai salah satu ruang publik bagi warganya. Sebab, seiring waktu ruang terbuka dan halaman-halaman yang luas tersebut akan kalah oleh pertumbuhan bangunan-bangunan baru. Kondisi ini jelas semakin mempersempit ruang terbuka hijau yang nyaman untuk sarana interaksi warga.
Taman kota pada dasarnya tidak sekedar ruang terbuka hijau. Taman kota yang ideal seharusnya mampu menjadi sarana rekreasi, edukasi dan sosialisasi yang nyaman bagi warganya. Menanggapi tulisan Mbak Monda Siregar yang berjudul Taman Kota, Ruang Publik untuk Semua, berikut saya ingin menjabarkan beberapa kriteria taman kota idaman versi saya:


  • 1.       Ditumbuhi oleh aneka tanaman

Bukan taman namanya jika di sana tidak terdapat aneka tanaman indah yang sedap dipandang mata. Tanaman hias dengan beraneka rupa dan jenis, tidak sekedar untuk memperindah taman. Namun juga bertujuan sebagai sarana edukasi untuk anak-anak. Di sini orang tua bisa memperkenalkan aneka jenis tanaman hias dan tanaman pelindung pada anak-anak mereka. Selain itu keberadaaan tanaman hias juga akan mengundang kehadiran serangga yang berterbangan dari tanaman satu ke tanaman lain. Seperti kupu-kupu, capung, lebah, dan jenis serangga penghisap madu lainnya. Anak-anak pun bisa belajar langsung dari alam tentang ekosistem, morfologi tanaman, ekologi tanaman, daur hidup dan lain sebagainya.

  • 2.       Terdapat pohon pelindung dan tempat duduk yang cukup
Penanaman Pohon Pelindung

Sebagai tempat interaksi yang nyaman bagi warga taman kota hendaknya memiliki tempat duduk yang teduh, terlindung dari sinar matahari langsung. Untuk itu, taman kota perlu memiliki tempat duduk yang memadai di setiap sudut taman. Agar warga yang berkunjung di sana bisa duduk-duduk santai bercengkrama dengan sesama atau sekedar menikmati keindahan taman. Disamping itu, keberadaan pohon pelindung yang memadai juga penting. Terutama untuk menjaga agar udara taman tetap nyaman, melindungi dari terik matahari langsung dan menyerap polusi udara dari lingkungan.

  • 3.       Ada fasilitas bermain dan belajar bagi anak-anak
Fasilitas Bermain anak
Taman kota baiknya ramah anak. Selain nyaman juga disertai dengan berbagai fasilitas permainan anak. Seperti ayunan, perosotan, dan lain-lain. Keberadaan fasilitas bermain ini dimaksudkan agar anak-anak tetap riang bermain tanpa mengganggu tanaman yang ada di sana.

  • 4.       Ada fasilitas tong sampah

Tong sampah adalah fasilitas yang wajib ada di taman kota. Sebab, setiap pengunjung yang berkunjung ke sini tidak jarang membawa makanan yang selalu menyisakan sampah. Keberadaan tong sampah menjadi edukasi bagi masyarakat agar membuang sampah pada tempatnya. Meski sudah menjadi rahasia umum, kesadaran masyarakat kita untuk membuang sampah pada tempatnya masih rendah.

  • 5.       Ada toilet umum yang memadai

Di setiap ruang publik memang keberadaaan toilet umum ini sangat dibutuhkan. Keinginan membuang hajat bisa timbul di mana saja dan kapan saja. Termasuk saat bersantai di taman kota. Sebab itu, untuk kenyamanan pengunjung taman kota sebaiknya dilengkapi dengan toilet umum yang memadai.

  • 6.       Tanaman dan fasilitas taman tertata dengan baik

Salah satu daya tarik taman kota adalah keindahan dan kenyamanannya. Semua itu tidak bisa tercipta hanya dengan keberadaan aneka tanaman hias, pohon pelindung dan fasilitas publiknya saja. Akan tetapi juga perlu ditunjang dengan penataan yang baik. Aneka tanaman hias perlu ditata sedemikian rupa sehingga indah di pandang mata. Demikian juga dengan berbagai fasilitas publik yang ada, ditempatkan pada tempat yang semestinya. Jika ditata dengan baik maka setiap benda yang ada di taman akan mempercantik taman. Sebaliknya, jika tidak tertata dengan baik, setiap
Kota identik dengan daerah pemukiman padat penduduk. Sementara taman identik dengan keindahan dan kenyamanannya. Sebagaimana surga selalu dikiaskan sebagai tempat yang dipenuhi taman-taman yang indah. Ya, taman kota adalah teras surga yang tersembunyi dalam keriuhan suasana kota. Kehadiran taman di tengah-tengah perkotaan menjadi keharusan. Sebab, meski tak terucap, taman kota adalah ruang publik yang dirindukan oleh seluruh warga kota.

Tuesday, 29 August 2017

Yuk Peduli Bullying pada Anak!

Belakangan istilah bullying ini semakin sering kita dengar. Terutama di media online dan sosial media. Hal ini dilatarbelakangi dengan terungkapnya kasus-kasus bullying terhadap anak di berbagai tempat. Di facebook beberapa waktu yang lalu beredar postingan video seorang anak berseragam SMP yang sedang dibentak-bentak dan dipukuli oleh sekelompok anak yang berseragam SMP juga. Beberapa waktu yang lalu kita juga disuguhi oleh berita bullying terhadap mahasiswa penyandang dissabilitas di sebuah Universitas ternama. Postingan-postingan tentang kasus bullying di sosial media ini membuat kita, --khususnya kaum ibu— sedikit banyak mengkhawatirkan keselamatan anak-anak kita dari bullying. Apalagi semakin anak tumbuh besar intensitas mereka di samping kita semakin berkurang. Karena mereka sudah punya aktivitas dan lingkungan sendiri bersama teman-temannya. Orang tua pun tidak mungkin 24 jam berada di samping mereka.
https://family.fimela.com
Bullying, Apa Sih?
Sebelumnya mari kita samakan persepsi terlebih dahulu. Sebenarnya bullying itu apa sih? Kok istilah ini ngetren banget akhir-akhir ini? Bullying adalah segala bentuk intimidasi baik secara fisik atau psikologis yang dilakukan oleh seseorang atau kelompok orang terhadap individu tertentu sehingga menyebabkan individu tersebut tertekan, trauma, depresi hingga tidak berdaya.
Sederhananya, ada tiga bentuk bullying yang perlu kita wasapai terjadi pada anak, yaitu:
  • Bullying fisik, contohnya: memukul, menampar, memalak, mengeroyok dan lain-lain.
  • Bullying verbal, contohnya: memaki, mengejek, membodoh-bodohkan, menggosipkan dan sejenisnya.
  • Bullying psikologis, contohnya mengintimidasi, mengecilkan, mengabaikan,mendiskriminasikan, dan lain-lain.
Masya Allah, bisa dibayangkan seandainya bentuk-bentuk kekerasan tersebut menimpa anak-anak kita. Bagi seorang ibu, jangankan disakiti, tubuh anak mereka digigit nyamuk saja mereka tidak rela. Namun faktanya, bullying pada anak itu ada dan telah menimpa sebagian dari anak-anak kita.
Pelaku bullying pada anak itu bisa siapa saja. Bisa teman-teman mereka sendiri, orang dewasa yang mereka kenal sebelumnya, orang asing yang belum mereka kenal, saudara, bahkan tidak terkecuali guru mereka. Jadi, pada dasarnya semua anak berpotensi menjadi korban bullying. Tidak terkecuali anak-anak kita.
Sebab itulah, siapapun kita wajib peduli dengan kasus bullying ini. Demi anak-anak kita, generasi muda kita dan demi masa depan bangsa ini. Karenanya, yuk peduli bullying pada anak melalui beberapa tindakan berikut!

Tingkatkan Kewaspadaan
Mengapa? Karena kasus bullying bisa terjadi di mana saja, kapan saja dan pelakunya pun bisa siapa saja. Tidak terkecuali di lingkungan rumah mereka sekalipun. Oleh karena itu, mari kita kenali di mana anak-anak bergaul dan dengan siapa mereka selalu berinteraksi setiap harinya. Bangun komunikasi yang baik dengan lingkungan di mana anak kita selalu bergaul. Bangun komunikasi yang baik dengan teman-teman mereka, dengan guru-guru mereka dan dengan orang-orang di mana anak-anak kita berada setiap harinya. Sehingga kita benar-benar yakin dan percaya bahwa anak-anak kita berada di lingkungan yang aman dan bergau dengan orang-orang yang bisa dipercaya.

Yuk Peka dengan Perubahan Anak!
Orang tua harus menjadi orang pertama yang mampu melihat ketika ada sesuatu yang tidak beres dengan anak-anak kita. Banyak diantara para korban bullying yang menyimpan rapat derita mereka karena intimidasi dari para pelaku bullying. Di sinilah orang tua diharapkan lebih peka melihat dan merasakan perubahan yang terjadi pada anak mereka.
Kepekaan ini akan timbul ketika orang tua hubungan emosional dengan anak terbangun dengan baik. Hal ini bisa diawali dengan membangun komunikasi yang baik dengan anak. Mari sempatkan waktu untuk mendengar cerita anak dengan penuh perhatian. Harga pendapat mereka, bagaimanapun sederhananya pendapat mereka. Dan sebagai orang tua kita perlu terus belajar untuk berpikir dan melihat dari sudut pandang anak.
Ketika komunikasi dengan anak baik, maka mereka akan selalu ingin bercerita tentang segala sesuatu yang mereka alami di luar sana. Sekalipun di intimidasi, ketidak nyamanan yang mereka alami di luar akan tetap mereka ceritakan pada orang tuanya. Karena mereka percaya dan jauh merasa aman ketika bercerita dengan orang tuanya. Jadi, sebesar apapun intimidasi di luar menjadi tidak berarti ketika berada di samping orang tua mereka. Sebab itu, yuk kita bangun komunikasi yang baik dengan anak!

Tanamkan Karakter Positif pada Diri Anak
Credit By: Sinta
Tidak hanya menjadi korban bullying, anak-anak juga berpotensi menjadi pelaku bullying. Salah satu bentuk kepedulian kita terhadap bullying ini adalah dengan menanamkan karakter positif pada diri anak. Hal ini bertujuan agar anak-anak tumbuh menjadi pribadi yang berkarakter positif. Menjadi pribadi yang pemaaf, penuh welas asih, peduli dengan sesama, dan selalu cenderung pada kebaikan. Selain itu mereka juga peka terhadap lingkungan sekitarnya. Selalu menjadi orang pertama yang peduli ketika melihat temannya mendapatkan perlakuan yang tidak adil dari lingkungan, termasuk ketika dibully.
Pertanyaannya kemudian adalah, bagaimana caranya untuk menumbuhkan karakter-karakter positif tersebut pada diri anak kita? Hal pertama yang perlu dilakukan adalah dengan memberikan tauladan yang baik dalam kehidupan sehari-hari. Jadilah orang dewasa yang penyayang, pemaaf, selalu bertutur kata yang baik di hadapan anak-anak. Sehingga yang mereka lihat dan dengan dari kita adalah perilaku yang baik-baik saja. Sebagaimana kita maklumi, anak-anak adalah peniru yang ulung. Apa yang mereka lihat dan dengar setiap harinya itulah yang akan mereka tiru. Sebab itulah, mari kita tampilkan hal-hal yang baik-baik saja di hadapan anak-anak.

Ajarkan Anak Agar Sadar Bullying
Tidak jarang anak-anak tidak sadar bahwa sebenarnya mereka menjadi korban bullying. Ketidak tahuan itu membuat mereka menelan saja semua perlakuan buruk dari lingkungannya. Tidak kuasa untuk melawan, namun tidak juga memiliki inisitif untuk meminta pertolongan. Karena mereka menganggap itu hal yang biasa mereka alami. Contohnya saja, anak-anak yang memiliki fisik yang tidak sempurna diolok-olok dengan panggilan yang menunjukkan kelamahan fisiknya. Seperti; si pendek, si hitam, si ompong, si buntung, dan sejenisnya.
Anak-anak sering menganggap panggilan tersebut sebagai sesuatu yang biasa. Padahal, hal itu merupakan bentuk bullying verbal yang paling ringan. Banyak anak-anak yang tidak paham bahwa hal itu merupakan salah satu bentuk bullying. Sehingga, tanpa sadar mereka melakukan bullying yang sama pada teman-temannya.
Adalah tugas kita orang-orang dewasa di sekitar anak untuk memberikan pemahaman pada anak-anak tentang bentuk-bentuk perilaku bullying. Agar anak-anak sadar bahwa perilaku yang mereka terima atau lakukan tersebut adalah salah satu bentuk bullying.
Ajarkan Anak Cara Menjaga Diri Mereka dari Bullying
Hal yang tidak kalah pentingnya adalah anak-anak perlu diajarkan cara untuk melindungi diri mereka sendiri dari bullying. Mengapa demikian? Karena, anak-anak tidak dua puluh empat jam berada dalam pengawasan orang tuanya. Anak-anak pun pastinya tidak akan nyaman jika setiap gerak dan aktivitas selalu ditemani oleh orang tuanya. Anak-anak punya dunianya sendiri. Anak-anak punya lingkungan dan teman-temannya sendiri yang mengharuskan mereka jauh dari pengawasan orang tua dalam beberapa waktu tertentu.
Oleh sebab itu, kita perlu ajarkan anak-anak cara menjaga diri mereka dari bullying. Ada beberapa hal yang perlu dilakukan untuk menjaga diri dari bullying, diantaranya yaitu:
  • Pahamkan anak tentang bentuk-bentuk perilaku negatif yan tergolong bullying.
  • Katakan pada anak agar mereka bersikap tegas pada teman yang mengganggu kenyamanannya.
  • Katakan pada anak agar mereka selalu bersahabat baik dengan siapapun.
  • Katakan pada anak agar berani berkata tidak, menghindar dan mau bilang pada ayah ibu mereka ketika menemui sesuatu atau seseorang yang membuat mereka merasa tidak nyaman.
Selain itu, satu hal yang perlu dipahami adalah setiap anak tidak hanya berpotensi menjadi korban bullying. Akan tetapi mereka juga berpotensi menjadi pelaku bullying. Sebagai orang dewasa kita punya peran penting mencegah sekaligus melindungi anak dari bullying. Baik sebagai korban atau pun pelaku. Kuncinya adalah kita harus peduli. Karenanya yuk peduli bullying pada anak.

Note:
Tulisan ini merupakan tanggapan dari tulisan Mbak Nia K. Haryanto di web KEB berjudul Yuk, Waspadai Bullying pada Anak-anak dalam program Collaborative Blogging KEB Grup Yohana Susana



Menjejali Anak SD dengan Les Tambahan?

Tema CollabBlogging pekan ketiga ini bagi saya cukup sulit yakni tentang perlu menjejali anak SD dengan les tambahan? Mengingat saya be...