Wednesday, 30 March 2016

Ketika Alarm Kematian Mengingatkan, Waktuku Tinggal 8 Hari



Setelah sekian lama ngak pernah posting tulisan, tiba-tiba posting tentang kematian. Aih ada apa ini? :) Tenang saudara-saudara ngak lagi berubah tabiat kok, Cuma ingin ikut meramaikan GA-nya mak dnamora. Tema GA yang tidak biasa kali ini mampu menggelitik hati ini untuk kembali menghidupkan blog ini. Thank you ya maak :)

Kematian adalah suatu yang pasti namun masih misteri. Tuhan menyembunyikan waktu dan cara kematian itu dari hamba-hamba-Nya. Jadi, sudah sepantasnya kita senantiasa mengingatnya.
Bahkan dalam islam, Rasul Saw sudah mewanti-wanti kita untuk senantiasa mengingat kematian. Kita dianjurkan untuk melihat orang sakit, melayat dan mengantarkan mayat ke kubur, menyolatkan jenazah, dan menziarahi kubur. Tujuannya tidak lain adalah agar kita senantiasa ingat bahwa suatu saat kita juga akan mati. Bukan hanya sekedar mengingat, tetapi juga mempersiapkan diri untuk hari berpulang tersebut. Agar ketika waktunya tiba, kita benar-benar bisa menutup mata dengan khusnul khotimah.
Hendaklah kalian memperbanyak mengingat kematian.” (HR. Ath-Thabrani).
Tampaknya tema GA kali ini senada dengan hadist di atas. Yakni mengingatkan kita agar mempersiapkan diri, lahir dan batin untuk menyambut hari yang dijanjikan itu.
Ketika menulis postingan ini, aku memberikan alarm pada diri sendiri. “Waktumu di dunia ini tinggal 8 hari lagi wahai diri, apa yang akan kamu lakukan?”  Berbagai slide-slide perjalanan hidup kembali bermunculan di memori. Semua membuat hati miris dan menangis. Ya, Allah andai waktu itu benar-benar tiba 8 hari lagi, apa aku layak menyandang gelar khusnul khotimah itu?
Dan ketika alarm kematian mengingatkan waktuku tinggal 8 hari lagi, inilah 5 hal prioritas yang akan aku lakukan:

Pertama: Taubatan Nashuha
Aku manusia biasa yang tidak bebas dari dosa. Banyak dosa dan maksiat yang memenuhi lembaran amalku. Karena itu, jika alarm kematian itu sudah berbunyi aku ingin diri ini sudah menuntaskan taubatan nashuha. Karena aku percaya ampunan Allah itu maha luas. Sekalipun dosaku sebanyak buih dilautan, aku tidak boleh berputus harapan.
Untuk itu, aku akan mengisi malam-malam panjangku dengan sholat taubat. Bersimpuh memohon ampun kepada-Nya. Membasahi lisan dengan istighfar setiap waktu selagi nyawa belum sampai ke tenggorokan. Mengakui semua dosa-dosa dan kesalahan yang telah aku lakukan selama ini. Mengakui semua kelalaiaan dan kemalasan diri. Mengakui kelemahan diri. Dan berharap ampunan dari Rabb yang Maha Luas ampunannya.
"Sesungguhnya Allah selalu menerima taubat hamba-Nya, selagi. nyawa belum sampai ke tenggorokan (sakaratul-maut)." (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah).

Kedua: Melunasi Hutang
Sebagai mahluk sosial, aku menyadari bahwa hidupku pun tidak lepas dari hutang. Baik hutang materi maupun immateri. Mungkin masih ada hutang uang yang belum dilunasi, barang pinjaman yang belum dikembalikan atau juga hutang janji yang belum ditepati. Aku akan segera membuka catatan hutang, bergerilya mencari benda dan barang pinjaman yang belum dikembalikan, juga memutar memori mengingat hutang janji yang belum ditepati. Jika ada hutang uang, aku akan segera melunasi. Jika masih ada benda atau barang pinjaman yang belum dikembalikan, aku akan segera mengembalikan, jika ada hutang janji yang belum ditepati jika memungkinkan akan aku tepati, jika tidak aku akan memohon keikhlasan dari mereka yang aku janjikan.
Ya, Allah aku berharap sebelum nyawa itu sampai ke tenggorokan semua hutang ini bisa aku lunasi. Jika belum bisa dilunasi, semoga aku sudah mendapat kerelaan dari mereka yang aku hutangi. Semoga Engkau memberi kebaikan dan pahala berlipat untuk mereka yang memudahkan urusanku dalam masalah hutang ini. Agar hutang dunia menjadi penghambat ruh-ku menuju kehadirhat-Mu.
 Jiwa (ruh) seorang mukmin (yang telah meninggal dunia) itu tergantung (tidak sampai kehadirat Allah) karena hutangnya, sehingga dibayarkan terlebih dahulu (oleh ahli warisnya).” (HR. Imam Ahmad, Ibnu Majah dan At-Tirmidzi).

Ketiga: Silaturahmi
Dalam bersosialisasi dengan sesama, aku tidak luput dari kesalahan. Baik perkataan, sikap, maupun tindakan yang telah melukai atau bahkan menzholimi sesama. Jika waktuku di dunia tinggal delapan hari lagi, silaturahmi akan menjadi prioritas ketiga yang aku lakukan. Jika memungkinkan untuk mengunjungi rumah mereka, akan aku kunjungi. Namun jika tidak, aku akan menghubungi mereka menggunakan alat komunikasi.
Dalam silaturahmi tersebut aku akan memastikan beberapa hal, yaitu:
  • Apakah masih ada hutangku pada mereka yang belum aku lunasi?
  • Apakah masih ada barang mereka yang aku pinjam
  • Apakah masih ada janjiku pada mereka yangbelum ditepati.
Nah, dengan silaturahmi ini aku berharap semuanya menjadi clear.
Selain itu sudah pasti banyak salah dan khilaf yang telah dilakukan selama bersosialisi. Karenanya, aku juga perlu meminta maaf dan memaafkan, meminta keikhlasan dan mengikhlaskan semua hal yang mungkin pernah membuat hubungan silaturahmi ternodai. Aku berharap, ketika meninggalkan dunia ini semua orang yang mengenalku telah memaafkanku dan mengiringi kepergianku dengan doa-doa terbaik mereka. Aku juga berharap kelak kami dipertemukan kembali di istana cahaya-Nya dalam canda tawa hingga membuat iri pada nabi dan syuhada. Sebab, kami saling mencintai karena Allah.
“Orang-orang yang bercinta karena keagungan-Ku, mereka mendapatkan mimbar-mimbar dari cahaya sehingga para nabi dan syuhada iri kepada mereka.” (HR at-Tirmidzi).

Keempat: Menulis Surat Cinta
Aku juga akan menyempatkan diriku untuk menuliskan surat cinta pada orang-orang yang aku cintai.Aku ingin menyampaikan pada mereka bahwa aku sangat mencintai mereka. Dan berharap akan terus bersama-sama mereka di dunia dan akhirat kelak. Aku akan menitipkan pesan agar mereka tidak melupakan Allah swt dalam kondisi apapun. Jangan tinggalkan apa yang diwajibkan-Nya dan menjauhi semua larangannya. Terus berdoa agar Allah yang Maha pengasih menyatukan kami kembali di Jannah-Nya.
Diwajibkan atas kamu, apabila seorang di antara kamu kedatangan (tanda-tanda) maut, jika ia meninggalkan harta yang banyak, berwasiat untuk ibu-bapak dan karib kerabatnya secara makruf, (ini adalah) kewajiban atas orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al Baqaroh: 180)

Kelima: Memastikan Hati, Lisan, dan Jasad Senantiasa dalam Dzikrullah
Ya Allah seandainya kematian itu tiba, aku ingin lisan, hati dan jasad ini sedang larut dalam dzikrullah. Untuk itu,aku akan mengisi hari-hariku dengan dzikrullah. Akan akan membasahi lisan dengan tasbih, tahmid, tahlil, istighfar dan kalimat-kalimat thoiyibah lainnya.Menjaga hati agar senantiasa mengingat Allah. Dan menjaga jasad agar senantiasa melakukan aktivitas-aktivitas yang diridhoi-Nya.
Nabi Muhammad Saw bersabda:
Barangsiapa yang akhir perkataannya Laa Ilaaha Illallah, masuklah ia ke dalam syurga.” (HR. Ahmad dan Abu Daud)
Sayangnya alarm kematian tidak selalu dibunyikan. Ya, kita tidak akan pernah tau kapan kematian itu datang. Menyiapkan diri untuk hari berpulang itu adalah cara terbaik untuk mengingatnya. Tidak perlu menunggu H-8 menuju kematian, karena kita tidak akan pernah bisa memprediksikannya. Langkah terbaik adalah selalu beringat bahwa kematian itu bisa datang kapan saja dan di mana saja. Tanpa perlu menunggu apakah kita sudah siap atau belum?
Jadi, sudahkah kita mempersiapkan diri untuk hari berpulang itu? 


Menjejali Anak SD dengan Les Tambahan?

Tema CollabBlogging pekan ketiga ini bagi saya cukup sulit yakni tentang perlu menjejali anak SD dengan les tambahan? Mengingat saya be...