Friday, 27 February 2015

My Orange



Buku Solo Pertama
Masih segar diingatan, beberapa tahun yang lalu saya menjemputnya di Zepelin Komputer Air Molek. Tepatnya saya lupa, tapi yang jelas dia saya jemput sebagai hadiah untuk diri sendiri. Hadiah atas salah satu pencapaian saya di  dunia menulis. Yakni terbitnya buku solo pertama saya ‘Doa Penenang Hati’.

Netbook mini berwarna orange ini sangatlah spesial. Karena uang saya gunakan untuk menebusnya adalah hasil jerih payah dari menulis.Yakni fee dari penulisan buku solo pertama itu.

My Orange, demikian selanjutnya saya menyebutnya. Kebersamaan dengannya tidak lagi bilangan purnama. Tapi sudah mencapai bilangan tahun. Selama beberapa tahun ini My orange dengan setia menemani saya mengejar mimpi. dan menjemput rezeki dengan menulis.

Sekian tahun my orange menemani saya. Sudah tidak terhitung lagi jumlah artikel yang dihasilkan bersamanya. Semua artikel itu kini tersebar di media-media online, seperti AnneAhira.com, Bimbie.com, Bimbingan.org, puncakbukit.net, hijapedia.com, hingga Blogekstra.com. Tidak hanya media online, beberapa artikel juga sempat menghiasi media offline. Salah satunya artikel tentang buah naga di majalah Irfan.

My Orange
Bersama my orange saya juga membidani lahirnya buku-buku non fiksi. Berikut adalah beberapa jejak karya yang saya hasilkan bersama my orange selama lebih kurang tiga tahun ini.

  1.  A-Z Kosmetik (Penerbit: Elex Media)
  2. Cabai, Sehat Berkhasiat (Penerbit: Andi Publishing)
  3. Ensiklopedia Tanaman Obat (Penerbit: Rumah Ide)
  4. Budidaya Cabe di Lahan Sempit (Penerbit: Infra Pustaka)
  5. Sedekah, Harta Berkah Rezeki Berlimpah (Penerbit: Galang Press)
Beberapa Buku yang Saya Tulis Bersama My Orange
Dan sekarang my orange dalam kondisi sakit. Sebagian layarnya tidak bisa menampilkan gambar ataupun tulisan. Hanya bidang putih yang ditampilkannya. Tidak hanya monitornya yang rusak, tapi keyboardnya juga tidak bisa berfungsi dengan normal. Untuk mengetik, saya terpaksa menggunakan keyboard USB yang disambungkan ke my orange.
Beginilah Kondisi My Orange Saat ini :(


Ya, meskipun dalam kondisi sakit, netbook orange ini masih setia menemani saya untuk berkarya. Layar monitornya memang sudah rusak sebagian, namun masih bisa digunakan. Keyboardnya pun harus dibantu dengan keyboar USB. Dalam kondisi seperti ini pun dia masih setia membantu saya menulis dan menyimpan semua data-data tulisan saya hiks…

Saya sudah berusaha membawanya ke tempat reparasi. Namun, ternyata biaya reparasinya hampir sama dengan beli baru. Karena kata mereka lcd dan keyboard my orange harus diganti baru. Dan yang mahal adalah harga lcd-nya. Rata-rata mereka menyarankan saya untuk ganti netbook baru saja hiks :'(

Bukan hanya belum adanya dana yang cukup yang membuat saya sedih. Tapi, bayang-bayang akan berpisah dengan my orange jauh lebih menusuk hati. Bagaimana tidak? My orange adalah wasilah saya dalam menjemput rezeki. Melalui netbook mini nan sederhana ini, saya bisa berbagi inspirasi, menorehkan karya hingga mengutip lembaran rupiah. Tidak banyak memang, tapi cukup untuk memenuhi kebutuhan dan berbagi dengan sesama.

Rasanya belum ingin berpisah dengan my orange. Sekalipun nantinya ada rezeki berlebih untuk menggantinya dengan yang baru, saya berharap netbook ini tetap bisa berfungsi. Menjadi sahabat setia dalam menorehkan karya-karya yang lebih baik, lebih bermanfaat dan lebih banyak lagi. Semoga LEMBIRU bukanlah solusi satu-satunya untukmu my orange. Semoga ada cara terbaik untuk menyembuhkanmu. Aamiin.

Sunday, 22 February 2015

Beginilah Cara Allah Menghibur Kita

Suatu ketika kamu merasa beraaat banget mau datang ke acara taklim, tapi entah kenapa ada saja sesuatu yang akhirnya memaksamu untuk pergi. Ajaibnya di acara yang awalnya tak ingin kamu hadiri itu justru memberikan materi yang sangat menyentuh hati dan memberikan jawaban atas semua masalah-masalahmu. 
Di lain waktu kamu sedang galau, tiba-tiba Allah menggerakkan kakimu untuk mendatangi seorang sahabat. Setelah ngobrol panjang lebar, tiba-tiba entah dari mana awalnya terselip di obrolan tersebut kata-kata yang mampu mengobati kegalauanmu.
Atau, suatu ketika kamu sedang gundah, tiba-tiba masuk sebuah pesan dari sahabat lama di inbox HP-mu yang isinya mampu menghalau semua gundah yang ada.
Pernahkah kamu mengalami hal-hal seperti di atas? Saya sering! Terkadang saya sering takjub dengan kenyataan-kenyataan seperti itu. Kok bisa pas ya? Rasanya mustahil materi yang disampaikan di acara itu dipersiapkan khusus untuk saya. Tapi kok bisa pas seperti itu. Rasanya mustahil sahabat lama saya tahu kondisi hati saya saat ini. Padahal orang-orang yang ada di sekeliling saya saja tidak tahu. Tapi kok ya justru dia yang mengirimkan pesan spesial yang sangat ngena di hati. 
Ya, mungkin inilah bagian dari rahasia Allah yang Maha Mengetahui setiap lintasan hati hamba-Nya. Dia ingin menghibur kita dengan cara-Nya yang tak terduga.
Saya yakin dan percaya bahwa tidak ada yang kebetulan dalam hidup ini. Segala sesuatu yang terjadi pada diri kita adalah atas kehendak Allah. Semua kemudahan-kemudahan yang kita dapatkan dalam hidup ini adalah buah dari doa panjang dan secuil amal sholeh yang kita lakukan.
Saya yakin, sesuatu yang saya anggap kebetulan itu adalah cara Allah menghibur saya dengan cara yang sangat lembut dan indah. Ketika saya punya masalah Allah dengan Rahman dan Rahimnya menuntun kaki saya untuk mendatangi orang dan tempat yang tepat. Melalui lisan orang-orang pilihan tersebut Allah menghibur saya, menasehati saya dan memberi jawaban atas masalah-masalah saya. Melalui lisan mereka, saya merasa Allah sedang berbicara secara pribadi dengan saya. Sangat dekat, sangat ngena, terkadang membuat saya tak mampu menahan bulir bening mengalir di sudut mata. Ya Allah kasih sayang-Mu sungguh nyata. Nikmat-Mu yang mana lagi yang pantas aku dustakan.
Saya juga yakin dan percaya Allah yang Maha Pengasihlah yang menuntun hati dan lisan orang-orang pilihan tersebut untuk memberikan materi yang tepat. Sebagaimana halnya Dia juga yang menguatkan langkah saya untuk menghadiri majlis itu. Sehingga, majlis yang penuh dengan keberkahan tersebut menjadi majlis yang sangat berarti. Kembali menguatkan hati-hati yang lemah.
Demikian juga halnya dengan pesan penuh nasehat yang masuk dalam inbox handphone pada waktu yang tepat. Saya yakin, Allah lah yang telah menuntun tangan dan hati pemiliknya untuk mengetik pesan dan mengirimkannya pada orang yang tepat. Karena Allah sebaik-baik pembuat skenario kehidupan. 
Karenanya, La Tahzan wahai hati-hati yang lemah. Berbaik sangkalah pada-Nya. Karena Allah Tuhan yang Maha Pemurah, mengetahui segala sesuatu yang tersembunyi di sudut hati. Berbaik sangkalah pada-Nya, karena sungguh Dia sesuai dengan persangkaan hamba-Nya.

#Nasehat Spesial untuk Diri 

Friday, 20 February 2015

Mengeksekusi Mimpi adalah Caraku Mengintip Takdir

“Orang yang bangkrut bukanlah orang yang tidak memiliki harta. Orang yang bangkrut adalah orang yang tidak memiliki mimpi.” H. Qomar
Mimpi yang terus dipupuk membuat hidup menjadi lebih hidup. Karena mimpi adalah secercah harapan yang menuntun kita untuk bergerak untuk meraihnya. Impian akan surga dan kehidupan yang lebih baik di akhirat, membuat manusia bersungguh-sungguh menjalankan tuntunan agama. Mimpi untuk menerbitkan buku, membuat penulis tak menyerah untuk berkarya. Mimpi untuk ke tanah suci membuat seorang muslim tak lelah untuk memantaskan diri untuk ke sana. Mimpi akan kehidupan yang lebih baik, membuat manusia tak pernah lelah untuk berikhtiar.
Mimpi adalah harapan yang terus menyala. Karenanya, jangan pernah berhenti bermimpi untuk masa depan yang lebih baik. Khususnya untuk masa depan yang abadi. Tentunya tanpa melupakan masa depan di dunia bersama keluarga dan orang-orang yang kita sayangi.
Mimpi adalah harapan yang membuat saya terus bertahan. Walau mimpi sempat membuat saya jatuh pada kesulitan yang menghimpit, namun saya tak pernah jera untuk bermimpi. Karena saya yakin, mimpi yang diilhamkan Allah pada saya adalah gambaran masa depan yang harus saya wujudkan dalam kerja-kerja nyata.
Saya punya banyak mimpi yang ingin saya wujudkan satu per satu. Terkadang saya seperti anak kecil yang selalu berganti-ganti cita-cita. Tapi saya sadar diri, saya adalah manusia yang penuh dengan keterbatasan. Seiring waktu saya mencoba menyortir mimpi-mimpi terbaik yang harus saya wujudkan. Mimpi-mimpi terbaik itu adalah mimpi yang benar-benar harus sesuai dengan passion saya.
Selain menulis saya sangat terobsesi dengan organic farming. Dan salah satu mimpi yang sangat ingin saya wujudkan dalam waktu dekat adalah memiliki kebun organik mini di halaman rumah. Sebidang kebun mini yang ditumbuhi aneka sayuran dan tanaman obat. Tidak perlu luas yang penting cukup untuk keluarga dan berbagi dengan tetangga. Sebagai langkah awal untuk mewujudkan impian lain, menerapkan gaya hidup organik dari diri dan keluarga inti.
Saya beruntung hidup di desa. Di mana lahan bukanlah masalah, karena terbentang memadai di samping rumah. Tinggal menyiapkan saprodi lainnya sesuai dengan kemampuan.
Halaman yang Menanti untuk Digarap
Permasalahan yang saya hadapi untuk mewujudkan mimpi ini sangat klasik, minim modal. Ya, saya tidak memiliki modal yang banyak. Tapi saya tidak ingin menjadikan itu sebagai excuse. Oleh karena itu, saya harus memulai semuanya dari nol. Memulai dari apa yang bisa dan apa yang dimiliki sekarang juga. Tanpa menunda lagi, tanpa mencari excuse yang pastinya akan selalu ada.
Yang bisa saya usahakan adalah menggali ilmu tentang organic farming sebanyak-banyaknya dari berbagai sumber. Kemudian memanfaatkan semua potensi yang ada di sekitar saya untuk memulai. Untuk itu hal pertama yang saya lakukan untuk mewujudkan mimpi itu adalah belajar membuat pupuk organik cair dari limbah rumah tangga. Saya mulai dengan belajar membuat Mikro Organisme Lokal (MOL) dari nasi basi. Mol ini nantinya bisa dimanfaatkan sebagai penyubur tanah dan bioaktivator untuk proses pengomposan.
Dan langkah demi langkah selanjutnya dilakukan secara bertahap. Dimulai dari mempersiapkan pagar untuk melindungi tanaman dari binatang ternak yang berkeliaran bebas di sini. Kemudian dilanjutkan dengan mempersiapkan media tanam. Saya memilih menggunakan polibag, karena lebih ringan dalam proses persiapannya dibandingkan jika menanam di tanah. Khususnya untuk sayuran yang berumur pendek dan sekali panen. Namun untuk jenis tanaman obat yang berumur panjang tetap ditanam langsung di tanah di pinggir-pinggir lahan.
Budidaya dalam Polibag Menjadi Pilihan

Mimpi ini baru dimulai dan baru dirintis eksekusinya. Saya tidak tahu bagaimana takdirnya nanti.  Tapi saya yakin dan percaya, cara terbaik untuk mengetahui takdir masa depan  adalah dengan merencanakannya. Dan apa yang saya lakukan saat ini adalah salah satu ikhtiar saya untuk mengintip masa depan yang tersembunyi di balik tabir takdir.




Thursday, 19 February 2015

Pohon Pembawa Keceriaan

Menjaga komitmen memang tidak mudah. Untuk  kedua kalinya hampir mangkir dari komitmen untuk one day one post di blog ini. Demi menjaga komitmen yang sudah dibuat, pagi ini saya mencoba menulis postingan ini.
Meski awalnya blank mau nulis apa, tapi azam sudah ditancapkan. Saya tetap harus menulis, walau hanya beberapa paragraf saja. Tapi menulis tentang apa?
Jangan bingung..., jangan bingung..., please jangan blank....! Bukankah ide itu ada di mana-mana. Bahkan hanya dengan mengalihkan sedikit pandangan kita ke tempat yang berbeda, ada ide yang sudah menunggu untuk dieksekusi. Buka mata, buka telinga dan buka hati! Lihat, dengar, dan rasakan! Ada banyak hikmah dan pelajaran yang bisa diikat dan bagikan pada yang lainnya.
Itulah yang saya lakukan pagi ini. Berawal dari membuka file dokumen foto pribadi dan mata saya langsung tertuju pada foto pohon ceri di atas. Ini merupakan batang pohon ceri yang tumbuh tepat di depan rumah. Menaungi sebagia halaman dan badan jalan kecil yang ada di sana. Setiap hari, pohon ini selalu menjadi tempat bermain anak-anak. Ada saja anak-anak kecil yang menaiki pohonnya. Mereka bergelantungan di dahannya untuk mengambil buah ceri yang manis atau sekedar bermain di sana.
Saya sangat ingat, pohon ini ditanam oleh Emak. Awalnya saya sempat tidak suka ketika Emak ingin menanamnya. Saya tahu pohon ini memiliki daun yang sangat lebat. Itu artinya, jika ia tumbuh besar, akan membuat halaman rumah kami menjadi kotor. Perlu kerja ekstra setiap hari untuk membersihkannya. Saya pikir, dari pada pohon ceri mendingan pohon mangga. Buahnya lebih besar, manis, elit dan sampah yang dihasilkannya tidak sebanyak pohon ceri.
Tapi rupanya Emak punya pemikiran lain. Beliau tetap bersikukuh menanam pohon itu. 
"Anak-anak pasti suka," kata Emak waktu itu.
Anak-anak? Padahal rumah kami tidak memilki anak-anak kecil. Anak-anak mana yang dimaksud Emak? Tapi, ya sudahlah. Biarkan Emak melakukan apa yang diinginkannya.
Seiring waktu, pohon ceri itu tumbuh dengan subur. Buahnya pun mulai muncul di setiap rantingnya yang lebat. Buahnya bulat kecil dan manis. Disenangi oleh siapapun yang kebetulan mampir ke rumah, apalagi anak-anak.
Ternyata Emak benar, anak-anak pasti suka! Semenjak pohon ceri itu berbuah, halaman rumah kami yang biasanya sepi selalu ramai. Ada saja anak-anak yang bermain dan berteriak minta buah ceri. Ya, pohon ceri ini termasuk tanaman yang berbuah sepanjang musim. Setiap hari ada saja buahnya yang matang, seperti tidak ada habisnya.
Sekarang rumah kami yang biasanya sepi dari suara anak-anak, tidak lagi sesepi dulu. Karena selalu aja ada suara kecil yang menyapa dari pokok pohon ceri. Suara tawa dan teriakan mereka menjadi warna baru bagi rumah kami. Tidak hanya suara anak-anak. Suara burung-burung kecil juga ramai terdengar. Rupanya, buah ceri juga menjadi makanan favorit burung-burung kecil tersebut.
Pohon ceri memang bukan pohon elit yang menjadi favorit semua orang. Buah yang dihasilkannya juga sangat mustahil dijual untuk menghasilkan mater. Namun, pohon ini memberi kami lebih dari sekedar materi. Ada keceriaan dan kebahagiaan yang dihadirkannya untuk kami. Hijau daunnnya mampu menyejukkan pandangan. Manis buahnya telah mengundang tamu-tamu kecil yang selalu mampu menghadirkan senyum di wajah kami.
Memang tidak ada yang sia-sia dari sebuah niat baik. Kebaikan selalu akan melahirkan kebaikan-kebaikan baru. Syukur tak terkira untuk sebuah kebahagiaan kecil ini.

Wednesday, 18 February 2015

Menyembuhkan Luka



Jika suatu ketika anggota tubuh terluka cukup dalam, kita pasti akan merasa sakit yang teramat sangat. Perih dan pedih yang menyayat syaraf-syaraf perasa. Rasa sakit itu sampai-sampai tidak sempat memberi kita waktu untuk berfikir bagaimana cara untuk mengatasi luka yang berdarah-darah itu. Bersyukur kita memiliki saudara dan sahabat yang masih bersimpati pada kita. Mereka rela meluangkan waktu mereka untuk membalut luka yang menganga, bahkan mengantarkan kita ke dokter untuk mendapatkan penanganan yang tepat.
Tapi, luka tidak akan sembuh dengan seketika. Penanganan yang diberikan hanya berfungsi untuk mencegah luka berdarah lebih banyak dan parah. Kulit yang terluka masih dalam kondisi terkoyak dan rentan untuk berdarah lagi. Butuh waktu untuk menyembuhkan luka itu agar kembali baik seperti sediakala. Tidak hanya waktu, luka juga membutuhkan pengobatan dan perlindungan agar proses penyembuhannya berlangsung dengan cepat.
Luka mungkin saja akan kembali berdarah ketika terbentur dengan benda keras. Luka juka mungkin akan mengalami infeksi jika tidak diobati dengan telaten. Luka yang dalam memang sangat rentan berdarah ketika bersinggungan dengan sesuatu.
Demikianlah tamsil dari hati yang sempat mengalami luka yang dalam. Tidak gampang untuk memulihkannya seperti sedia kala. Mungkin akan mustahil kembali seperti semula. Tidak hanya bekasnya yang akan menjadi pengingat lara yang pernah dilewati. Bagian yang terluka juga akan rentan kembali berdarah karena sebab gesekan kecil yang tidak kita sadari.
Ya, luka hati yang dalam tidak hanya membutuhkan waktu untuk menyembuhkannya. Ia juga membutuhkan perlindungan agar tidak kembali kambuh karena gesekan atau singgungan sekecil apapun. Hindarkan luka dari gesekan benda asing. Hindarkan juga luka dari siraman air yang terlalu sering. Sebab, luka membutuhkan lingkungan yang kondusif untuk kembali pulih..
Karenanya, ketika kita bertemu dengan hati yang luka janganlah sok jadi pahlawan untuk menyembuhkannya sebelum paham dengan sosok dan penyebab luka itu. Karena, hati yang terluka cenderung sangat sensitif. Boleh jadi, treatmen yang kita lakukan bukannya menyembuhkan luka tapi malah menyebabkan luka kembali berdarah.
Berilah si terluka ruang dan waktu untuk memulihkan dirinya sendiri bersama Rabb-nya. Jangan pernah membuka cerita tentang luka di hadapannya. Karena itu bisa menjadi sebab terkoyaknya bekas luka yang sedang berjuang untuk sembuh. Tahukah kamu? Luka di atas luka jauh lebih menyakitkan. Jauh lebih sulit untuk disembuhkan.
Terkadang mendiamkannya adalah tindakan yang tepat. Mendiamkan bukan berarti tidak peduli. Justru, mendiamkan adalah salah satu bentuk empati. Karena kita sedang memberi waktu pada luka untuk memulihkan dirinya sendiri.
Biarkan hati itu merintih dan mengadu pada Tuhan-Nya. Pada waktunya Dia yang Maha Memiliki setiap hati akan menyembuhkan luka itu dengan sempurna. Dia akan menggantikan rasa sakit dengan rasa syukur yang tak terhingga. Dia juga yang akan membentangkan hikmah dan pelajaran berharga dari cerita lara yang pernah ditangisi.

Monday, 16 February 2015

Menjaga Sebuah Komitmen

"Jika memulai itu sulit, ketahuilah menjaganya jauh lebih sulit"

Setiap kali membuka dashboard blog ini, saya selalu tertegun. Teringat kembali bagaimana saya tergerak
Sumber Gambar: www.aacc.edu
untuk membuat sebuah laman blog. Keinginan untuk memiliki sebuah media online sebagai sarana untuk latihan menulis dan menebarkan kebaikan di dunia yang tanpa batas ini.
Tekad dan semangat kala itu sangat menggebu. Begitu membuncah. Saya membayangkan betapa menyenangkannya bisa menulis dan berbagi setiap saat. Blog ini merupakan media online yang siap mempublish tulisan kapanpun saya mau.
Namun, seiring perjalanan waktu ternyata semua tidak berjalan seperti apa yang dibayangkan. Bukan, bukan kendala teknis yang menyebabkan saya tidak bisa mempublish tulisan setiap hari. Bukan juga penghalang eksternal lain yang membatasi. Akan tetapi permasalahan itu justru datang dari dalam diri sendiri.
Ya, ternyata saya selalu membuat 'excuse' yang menyebabkan saya tidak menulis untuk blog ini.
Saya selalu beralasan tidak punya waktu untuk menulis, kenyataannya saya tidak menyempatkan waktu untuk menulis.
saya selalu beralasan tidak punya ide, kenyataannya saya tidak segera mengeksekusi setial lintasan ide yang hadir setiap saat.
Saya selalu beralasan tulisan saya kurang menarik, kenyataannya saya selalu ingin terlihat perfect.
Akibatnya, komitmen awal untuk mengisi blog ini terabaikan.
Ketika melirik daftar postingan di dashboard saya meringis, menertawakan kelalaian selama ini. Selama blog ini hidup, postingan yang menghiasinya bisa dihitung dengan jari. Kemana saja saya selama ini? Ya, memulai memang mudah, sangat mudah. Akan tetapi menjaga sebuah komitmen itulah yang sulit. Diperlukan tekat yang harus diperbaharui terus menerus. Diperlukan disiplin dan perencanaan tertulis yang harus dipatuhi. Dan sepertinya itulah yang saya lupakan selama ini.
Sekarang...
Ya, sekarang adalah detik dimana saya kembali disadarkan dari kelalaian ini. Sepertinya ini adalah saat yang tepat untuk memperbaharui komitmen ini. Untuk mengembalikan fungsi blog ini sebagai sarana untuk latihan merangkai kata, mengikat makna. Kembali untuk menghidupkan blog ini dari mati surinya. 
Semoga tidak berlebihan jika saya berikhtiar untuk memulai kampanye one day one post untuk blog ini! Bismillah...

Merancang Design Pembelajaran

Berhubung Gdrive gagal terus ngunduh data, baik saya posting di sini saja. Belajar bagamana caranya belajar. Demikian materi yang diterim...