Sunday, 15 September 2013

Memasyarakatkan Jamu dengan Lisan dan Tulisan


Sejatinya, saya termasuk orang yang terlambat tertarik dengan jamu. Mungkin, karena saya hidup di lingkungan keluarga yang tidak dekat dengan tradisi minum jamu. Kalaupun mengkonsumsi jamu itu bukan dari ramuan sendirian. Melainkan, membeli dari mbak-mbak bakul jamu gendong yang rutin datang seminggu sekali di depan rumah.
Perkenalan paling mengesankan dengan jamu adalah saat masih duduk di sekolah dasar. Kala itu sedang ngetren jamu ‘buyung upik’ yaitu jamu yang rasanya lebih manis –karena diberi campuran madu yang banya-- khusus untuk anak-anak. Saya tidak tau pasti apa khasiatnya. Tapi yang jelas waktu itu, saya suka sekali jika mbak jamu lewat depan rumah. Itu artinya saya bisa merengek minta dibelikan jamu ‘buyung upik’ pada ibu.
Tradisi minum jamu ini tidak berlangsung langgeng. Begitu mbak-mbak jamu itu tidak pernah datang lagi, tradisi minum jamu keluarga kami juga berhenti. Padahal, di sekitar rumah kami sebenarnya tanaman obat yang bisa diolah menjadi jamu banyak tersedia. Seperti temu-temuan, kunir, kencur, jahe, kapulaga dan sejenisnya. Demikian juga dengan tanaman obat lain seperti sambiloto, mahkotadewa, pepaya, jeruk nipis dan lain-lain. Kami lebih memilih ke dokter atau mantri kesehatan untuk berobat, sekalipun hanya untuk mendapatkan obat penambah nafsu makan.


Jatuh Cinta pada Jamu
Ketika kuliah di Yogyakarta saya bisa dengan mudah menemukan penjual jamu keliling. Di sana juga saya mendapatkan banyak pengetahuan yang benar dan ilmiah tentang jamu. Beberapa kali Saya sempat mengikuti seminar tentang jamu dan potensi pekarangan untuk mengembangkan tanaman biofarmaka.
Sebelumnya saya tidak memiliki pengetahuan yang cukup tentang jamu. Pikiran sederhana saya waktu itu menerjemahkan bahwa jamu merupakan obat-obatan berbentuk serbuk, memiliki cita rasa pahit (kecuali jamu buyung upik tentunya) dan dibuat oleh orang jawa. Hehehe…sesederhana itu pikiran saya waktu itu tentang jamu.
Laos dan Bawang Putih Bagian Tanaman Berkhasiat Obat
Namun, seiring waktu saya mulai paham bahwa jamu adalah istilah yang digunakan untuk menyebut obat-obatan dan suplemen tradisional asli warisan leluhur dari Indonesia. Belakangan dikenal juga dengan istilah herbal. Jamu terbuat dari bahan-bahan alami seperti daun-daunan, akar, rimpang, kulit batang, buah dan bagian lain yang berkhasiat obat dari tumbuhan. Selain tumbuhan beberapa bagian atau yang dihasilkan oleh hewan juga sering digunakan seperti madu, empedu kambing dan sebagainya.
Oo..ternyata jamu tidak sesempit yang saya ketahui selama ini. Ternyata jika saya membuat ramuan perasan daun pepaya untuk meningkatkan nafsu makan, itu merupakan jamu. Atau jika saya membuat air rebusan daun salam untuk menurunkan kadar asam urat itu juga termasuk jamu. Mengetahui semua itu seakan membuka mata saya lebar-lebar, bahwa alam sudah menyediakan potensi obat-obatan yang melimpah. Apa yang ada di halaman rumah saya merupakan investasi kesehatan yang luar biasa jika mau dikembangkan. Temu-temuan, kunir, jahe, laos, pepaya, mahkota dewa, kemangi, tebu dan lain-lain. Hanya memerlukan pengetahuan dan kemauan untuk mengolahnya menjadi jamu.
Sejak itu saya mulai jatuh cinta dengan jamu. Saya semakin tertarik untuk menggali pengetahuan tentang jamu dan tanaman herbal. Berbagai resep jamu saya kumpulkan dan sesekali saya praktekkan untuk memberi pertolongan pertama jika diri sendiri atau anggota keluarga sakit. Saya sering menggunakan perasan air daun pepaya untuk menambah nafsu makan. Rebusan daun tapak dara untuk mengobati kencing manis, wedang jahe untuk menghangatkan badan, jamu beras kencur sebagai tonikom (penyegar) serta menghilangkan pegal-pegal pada tubuh dan lain sebagainya.
Ramuan Daun Pepaya untuk Menambah Nafsu Makan

Ya, kita patut bangga pada jamu. Karena jamu merupakan salah satu karya bangsa. Bahkan Kemendikbud sedang berusaha untuk mengajukan pada Lembaga Kebudayaan PBB, UNISCO untuk mendapatkan pengakuan bahwa jamu sebagai Warisan Dunia Karsadan Karya Bangsa Indonesia.

Mengenalkan Secara Lisan
Semangat untuk mencintai jamu sebagai warisan medis dari leluhur tidak saya nikmati sendiri. Dalam berbagai kesempatan saya berbagi pengalaman manfaat mengkonsumsi jamu dan cara pengolahannya dengan teman dan saudara. Jika ada saudara yang demam, sakit dan sejenisnya saya lebih senang menyarankan mereka untuk mengkonsumsi jamu. Jika mengetahui ramuan yang sesuai untuk sakit yang mereka derita, saya akan memberikan resepnya dengan sukarela.
Ini adalah cara sederhana saya untuk memasyarakatkan jamu. Karena, cara ini juga yang telah ditempuh oleh nenek moyang kita, sehingga pengetahuan tentang jamu tetap awet dari generasi ke generasi. Sekarang adalah tanggung jawab saya, Anda dan kita semua untuk meneruskan estapet pengetahuan tersebut ke generasi selanjutnya.
Sekarang menjadi lebih mudah. Karena jamu instan dan kemasan sudah banyak diproduksi dan dijual di apotik-apotik dan toko-toko obat. Anda bisa merekomendasikan mereka untuk memilih obat-obatan tradisional tersebut. Tentunya tetap dengan memberikan edukasi agar mereka memilih jamu kemasan yang sudah terdaftar di Badan POM RI.

Menyebarkan Melalui Tulisan
Tidak dipungkiri, respon masyarakat dalam menerima pengetahuan tradisional cenderung rendah. Kehadiran teknologi pengobatan modern yang lebih praktis dan cepat cenderung membuat manusia semakin mengesampingkan pengobatan tradisional yang dinilai lebih merepotkan dan reaksinya cenderung lebih lambat.
Namun perkembangan itu tidak perlu membuat kita pesimis. Yang perlu dilakukan adalah terus mengedukasi masyarakat secara masif. Memberikan pengetahuan yang benar tentang jamu dan mengajak mereka untuk mencintai jamu.
Ensiklopedia Tanaman Obat (Rumah Ide, 2013)

Hal inilah yang kemudian menggerakkan saya untuk membagi kumpulan pengetahuan tentang jamu dan tanaman obat dalam bentuk tulisan. Kumpulan pengetahuan tersebut kemudian saya bukukan  yaitu ‘Ensiklopedia Tanaman Obat’ yang diterbitkan oleh Rumah Ide. Sementara itu kumpulan resep obat-obatan tradisional yang saya peroleh dari buku dan hasil wawancara dari berbagai narasumber juga insya Allah akan diterbitkan dalam bentuk buku. Sebagai penulis tentu inilah upaya terbaik yang bisa saya lakukan.
Ya, untuk saat ini kekuatan lisan harus didampingi dengan kekuatan tulisan. Bersatunya dua kekuatan itu insya Allah akan cukup efektif untuk memasyarakatkan jamu di lingkungan kita.

Memasyarakatkan Jamu secara Terpadu
Memasyarakatkan jamu secara terpadu perlu dilakukan. Semua pihak dituntut untuk mengambil peran sesuai dengan posisi, pengetahuan dan kemampuannya. Misalnya, apoteker dan dokter memberikan pengetahuan yang benar tentang jamu kepada para pasien atau minimal tidak mendeskriditkan jamu sebagai ramuan yang tidak bisa dipertanggungjawabkan ‘keilmiahannya’. Sudah waktunya ahli-ahli farmasi dan kesehatan di negeri ini meneliti potensi jamu. Menemukan resep dan dosis yang tepat dalam mengkonsumsi jamu. Sehingga jamu bisa diakui, diterima dan dapat dipertanggung jawabkan dari sisi ilmiahnya.
Penulis memasyarakatkan jamu dalam bentuk tulisan. Blogger mengedukasi masyarakat tentang jamu melalui postingan tulisan, foto dan kampanye tentang jamu di blognya. Guru memberi edukasi tentang jamu pada muridnya sejak dini. Ibu-ibu PKK mengajak masyarakat menanam tanaman toga dan mendidik kadernya untuk membuat ramuan jamu. Jadi, semua pihak sejatinya bisa memberikan kontribusi positif untuk memasyarakatkan jamu.
Jadi, mari mencintai jamu dan mari mengambil peran untuk memasyarakatkan jamu!

Referensi:

2 comments:

Tinggalkan Komen Ya!

Menjejali Anak SD dengan Les Tambahan?

Tema CollabBlogging pekan ketiga ini bagi saya cukup sulit yakni tentang perlu menjejali anak SD dengan les tambahan? Mengingat saya be...