Friday, 13 September 2013

Kami Menyebutnya Pohon Kehidupan

Ketika membaca tema GA ini --Aku dan Pohon--, aku sejenak berpikir. Apa yaa.. pohon yang paling berkesan dalam hidupku? Tiba-tiba ingatanku terpaku pada sosok pohon tanaman tahunan yang berbaris rapi di sebuah lahan seluas satu hektar. Lahan yang hampir setiap hari dikunjungi oleh sepasang bidadari dari mulai ditanami hingga hari ini. Setiap hari juga sepasang bidadari itu mendatangi satu demi satu pohon yang berbaris tersebut untuk menggoreskan ujung pisau bersiku ke kulit pohon untuk mengeluarkan cairan putih susu.
Sejenak nafasku tiba-tiba sesak, mata berkabut menahan rasa haru yang tiba-tiba membuncah. Slide demi slide suka duka bersama barisan pohon dan sepasang bidadari itu, menari-nari di benakku. Kisah itu belum selesai, bahkan masih berlanjut hingga hari ini. Bagaimana, pohon yang tumbuh kokoh itu rela dilukai setiap hari untuk diambil cairan putih susu yang mengalir pada goresan luka itu. Bagaimana sepasang bidadari bekerja keras mengumpulkan rupiah demi rupiah dari batang-batang pohon tersebut. Pandangan mataku semakin buram ketika mengingat tumit kaki ibuku yang tampak retak-retak. Ya, Allah tumit kaki itu yang setiap hari berjalan dari satu pohon ke pohon lain untuk mengumpulkan cairan putih susu yang keluar dari pohon-pohon yang tumbuh berbaris di lahan tersebut. Tenggorokanku tercekat, cairan bening tak bisa dicegah mengalir dari sudut mata.
Ya, ingatan pada barisan pohon itu dan sepasang bidadari selalu menghadirkan rasa haru. Bagaimana tidak? Dalam setiap tetes keringat yang mengalir dari pori-pori kulit sepasang bidadari itu. Dalam setiap tetesan cairan putih susu yang mengalir dari goresan di kulit pohon-pohon itulah mengalir nafas kehidupan dan harapan bagi kami sekeluarga. 
Sepasang Bidadari

Anda tau?
Sepasang bidadari itu adalah kedua orang tuaku, emak dan bapak –meminjam istilahnya Ippho Santosa--. Pohon yang berbaris rapi mengeluarkan cairan putih susu itu adalah pohon karet. Pohon inilah yang menjadi sumber penghidupan keluarga kami. Batang pohon ini setiap hari disadap, diambil cairan putih susunya (latex), dibekukan dan dijual. Dari sanalah kedua orang tuaku memperoleh rupiah demi rupiah untuk menafkahi dan menyekolahkan kami anak-anaknya. Hingga satu demi satu anak bapak dan emak berhasil menginjakkan kakinya di almamater bergengsi di negeri ini. 
Barisan Pohon Karet



Jadi, tidak salah kiranya jika kami (aku dan keluarga) menyebut pohon ini sebagai pohon kehidupan bukan?
Baiklah, mungkin ada yang belum mengenal pohon karet dan bertanya-tanya mengapa cairan lateks dari pohon ini bisa menghasilkan rupiah?
Pohon karet (Hevea brasiliensis) merupakan salah satu komoditi perkebunan yang cukup diperhitungkan di Indonesia. Tanaman ini memberikan kontribusi besar baik dalam bidang ekonomi maupun ekologi. Dari sisi ekonomi, sejak dahulu karet sudah menjadi sumber penghasilan utama bagi petani pekebun di berbagai wilayah sentra pengembangan karet. Jauh sebelum tanaman sawit menjadi primadona perkebunan, tanaman karet sudah menjadi sumber pendapatan bagi petani pekebun. Bahkan, karet termasuk salah satu komoditi ekspor non migas yang menjadi sumber devisa yang potensial bagi negara ini. Dari sisi ekologi pohon karet adalah komponen ekosistem yang berperan penting menjaga keseimbangan alam.
Pohon karet merupakan jenis tanaman tahunan yang tumbuh meninggi dan memiliki lingkar batang yang cukup besar. Tinggi tanaman dewasa bisa mencapai 15-30 meter. Pohon tumbuh meninggi, lurus dan membentuk percabangan setelah cukup tinggi. Batang tanaman mengandung getah, yang kemudian dikenal dengan istilah lateks. Jika salah satu bagian tanaman dilukai, maka ia akan mengeluarkan cairan putih susu atau lateks ini. Batang merupakan bagian tanaman yang paling banyak mengandung lateks.
Bekas Sadapan

Selanjutnya beralih pada daun. Pohon karet memiliki daun berwarna hijau saat muda dan berubah menjadi kuning hingga merah setelah tua dan rontok. Uniknya, pohon karet memiliki kebiasaan menggugurkan/merontokkan daun-daunnya pada waktu tertentu. Biasanya terjadi pada musim kemarau untuk mengurangi penguapan. Petani karet menyebut masa itu dengan istilah ‘musim bercukur’. Karena pohon karet benar-benar menjadi gundul seperti orang yang habis bercukur karena merontokkan semua daun-daunnya. Musim bercukur adalah masa-masa paceklik bagi petani karet. Karena produksi lateks otomatis juga menurun.
Secara morfologi, daun karet memiliki tangkai daun utama dan tangkai anak daun. Daun karet merupakan daun majemuk. Setiap helai daun majemuk terdiri atas tiga anak daun yang berbentuk elips, memanjang dan ujung daun meruncing.
Tanaman karet berkembang biak dengan biji. Biji karet berwarna coklat kehitaman dengan bercak-bercak pola yang khas. Biji terdapat dalam ruang buah yang keras berwarna hijau saat muda dan berubah menjadi coklat setelah matang. Jika sudah matang ruang buah akan pecah secara alami dan mengeluarkan biji. Biasanya disertai dengan suara khas ‘klik’ yang cukup jelas. Setiap buah karet terdiri atas 3 hingga 6 ruang buah. Masing-masing ruang buah menghasilkan satu biji.
Berbeda dengan tanaman sawit, pohon karet yang dimanfaatkan dalam dunia industri bukan biji atau buahnya. Melainkan getah atau lateks yang keluar dari proses pelukaan pada batang tanaman tersebut. Proses pelukaan pada pohon karet ini dikenal dengan istilah penyadapan. Penyadapan bertujuan untuk membuka pembuluh lateks pada batang pohon karet, sehingga lateks mengalir keluar.
Proses penyadapan tidak bisa dilakukan sembarangan. Melainkan dengan teknik tertentu. Hal ini dimaksudkan agar lateks mengalir banyak langsung dialirkan ke tempat penampungan dan tidak menyebar ke mana-mana. Beberapa jam kemudian, lateks yang terkumpul tersebut akan membeku. 
Oh ya, perlu diketahui lateks ada yang dijual dalam bentuk cair dan ada juga yang dijual dalam bentuk beku (padatan). Orang tuaku dan petani karet di desa kami semuanya menjual lateks dalam bentuk beku. Lateks dalam bentuk beku dikenal juga dengan istilah getah lum.
Lateks

Mengapa lateks atau getah lum laku dijual? Lateks dan getah lum merupakan sumber karet alam yang sangat bermanfaat dalam dunia industri. Ia merupakan bahan baku pembuatan berbagai produk industri seperti ban, sandal, sepatu, isolator dan lain-lain. Sehingga, permintaan akan karet alam ini tetap besar baik untuk kebutuhan dalam negeri maupun untuk kebutuhan ekspor.
Keluargaku memang sangat dekat dengan pohon karet. Mengingat pohon karet bagiku sama dengan mengingat perjuangan keluarga ini. Bagaimana tidak? Sesuap nasi yang masuk ke mulutku dari bayi merupakan hasil dari tetesan cairan lateks yang disadap dengan penuh kesabaran oleh sepasang bidadari. Gelar sarjana yang disandang oleh anak-anak emak dan bapak tidak lepas dari tetesan cairan lateks.
Ya, pohon karet adalah pohon kehidupan. Kehidupan keluarga ini mengalir bersama aliran lateks di dinding-dinding pembuluh tapisnya mengikuti irama sadapan. Terimakasih pohon karet telah mengizinkan tubuhmu dilukai untuk menghidupi keluarga ini. Terimakasih tak terhingga pada sepasang bidadari yang pengorbanan dan kasih sayangnya tiada tara. Semoga Allah melimpahkan hidayah, kesehatan dan kebahagiaan selalu untukmu duhai Ayah dan Ibu.

3 comments:

  1. Ida udah komentar dari kemarin, tapi kok nggak masuk" ya...


    Begini, Mak, setahu Ida, sepasang bidadari ya tetap perempuan semua. Kalo satunya laki" namanya sepasang sejoli.

    Dibukunya Ippho Santoso juga yang disebut sepasang bidadari itu perempuan semua. Istri dan Ibu. :D


    Salam kenal ya, Mak
    Mohon maaf lahir batin
    Ida Raihan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Salam kenal jg mak Ida,

      Terimakasih kritikannya mak, sy yang keliru :)
      Maksudnya memang untuk menyederhanakan penyebutan saja. Kira-kira apa ya istilah yg cocok utk ayah dan ibu? klo sepsang sejoli kesannya ABG banget hehe....

      Thank u dah mampir ya mak, :)

      Delete
  2. Penjelasan yang menarik gan :) bermanfaat bgt, visit ya www.ipb.ac.id

    ReplyDelete

Tinggalkan Komen Ya!

Menjejali Anak SD dengan Les Tambahan?

Tema CollabBlogging pekan ketiga ini bagi saya cukup sulit yakni tentang perlu menjejali anak SD dengan les tambahan? Mengingat saya be...