Thursday, 5 December 2013

Moneteis Blog, Proyek Monumental 2014


“Kak, ada info kerjaan ngak?”
Sebuah sms masuk dalam inbox ponselku dari seorang teman. Sejenak berpikir mengingat-ingat info lowongan pekerjaan yang pernah dibaca atau didengar. Akhirnya…
“maaf dek saat ini belum ada, nanti klo dapat info kk sms insya Allah”
Dengan berat akhirnya aku balas juga sms itu.
Di lain kesempatan, bertemu dengan seorang binaan rohis yang baru lulus sekolah. Ketika ditanya mau melanjutkan kuliah ke mana? Dengan senyum yang terlihat dipaksa ia bercerita bahwa niat untuk kuliah harus ditunda dahulu karena kendala biaya.
“Sementara mau cari kerja dulu kak. Hmm…ada info lowongan kerja yang cocok untukku ngak kak?”
Lagi-lagi saya hanya bisa menjawab, “insya Allah nanti kalau ada info kakak kasih tau..”
Duh…Gusti, betapa sedihnya tak bisa menjadi solusi bagi kesulitan orang lain. Pertanyaan-pertanyaan seperti itu tidak satu dua kali aku terima. Dan, selalu saja ada rasa sedih setiap kali tidak bisa memberikan jawaban dan solusi untuk kesulitan mereka.
Andai saya punya usaha sendiri…….mungkin jadinya tak beginiii...hihi....*lho malah nyanyi :D

Bikin Proyek Monumental 2014 Yuk!
Ah, tapi tak baik berandai-andai. Karena itu tidak akan memberikan solusi untuk permasalahan ini. Lebih baik menyiapkan proyek monumental 2014 bersama Pak Dhe Guslik Galaxi. Selain sebagai langkah awal untuk memantapkan ikhtiar untuk membuka lapangan kerja bagi sahabat dan saudara, juga iseng-iseng berhadiah siapa tau menang dalam kontes ini hehe….
Yap, Proyek Monumental 2014 saya adalah membangun 'moneteis blog'.
Why?
Apa monumentalnya? Mana yang luar biasa?
Bagi blogger sekelas Pak De mungkin proyek seperti ini tidak terlalu monumental. Keciiiil….itu neeet… Masak segitu aja dibilang monumental hihi…..
Tapi bagi saya saya ini sangat monumental. Karena, proyek ini adalah bagian dari impian saya untuk berbagi kesempatan menulis yang ‘berdaya’ dengan sesama. Ada beberapa alasan yang mendorong saya untuk menjadikan ‘moneteis blog' ini sebagai proyek monumental bagi saya pada tahun 2014, yaitu:
Pertama; saya ingin moneteis blog saya nanti bisa menjadi solusi, jawaban bagi sahabat-sahabat saya yang sedang kesulitan ekonomi. Saya terinspirasi dari blog Puncak Bukit yang membeli tulisan dari pembacanya dengan harga yang layak. Tidak sedikit para pembaca blog puncak bukit ini yang merasakan manfaat dari sana.
Saya ingin, ketika sahabat-sahabat saya bertanya tentang info lowongan pekerjaan atau mereka bercerita tentang kesulitan ekonomi dalam hidup mereka,  saya bisa memberikan sedikit solusi. Minimal menjelang mereka mendapatkan pekerjaan yang layak, saya bisa menawarkan peluang mendapatkan penghasilan dari moneteis blog yang saya miliki.
Si Orange, Sahabat Setia dalam Menulis

Kedua; saya senang menulis dan sekarang saya memutuskan bekerja full time sebagai penulis. Namun, selama ini saya hanya menulis sendiri. Saya ingin mulai tahun depan saya naik kelas. Tidak lagi sekedar menulis untuk mendapatkan penghasilan sendiri. Saya juga ingin mengajak sahabat-sahabat saya terutama perempuan untuk bisa ‘berdaya’ dengan menulis. Dan saya ingin mengajak mereka memulai semua itu dengan menulis artikel pendek untuk moneteis blog yang saya miliki nantinya.
Ketiga; selama ini saya menerima honor menulis dari penerbit, agensi dan pemilik web di mana saya menulis. Selalu ada senyum setiap kali saya mendapat konfirmasi pencairan honor dari mereka. Tahun depan, saya tidak ingin tersenyum sendiri. Saya ingin juga ada penulis-penulis yang tersenyum di ujung sana ketika membaca email/inbox/sms dari saya bahwa honor menulis mereka di moneteis blog saya sudah ditransfer J
Ya, hanya sesederhana itu Pak De Proyek monumental 2014 yang ingin saya garap. Namun, untuk merealisasikannya tentu tidak sesederhana itu. Mungkin bagi Pak De ini mah keciill untuk direalisasikan. Tapi, bagi sayaa.., aduuh masih kabur :p

Kendala Menghadang Harus Ditendang :)
Tidak ada proyek yang berjalan mulus tanpa kendala. Akan selalu ada aral melintang menghiasi setiap langkah-langkah yang ingin dilewati oleh seorang pejuang kehidupan. Karena, kendala adalah sebuah batu ujian yang disiapkan oleh Tuhan untuk semakin mengokohkan kesungguhan dalam merengkuh setiap target atau impian yang sudah dipancangkan.
Bagi saya, kendala terbesar dalam merealisasikan moneteis blog ini adalah......ilmu saya masih sedikit banget tentang moneteis blog. Saya buta sama sekali tentang SEO, Adsense, advertising online dan sejenisnya. Ilmu tentang pengelolaan blog pun hanya saya dapatkan secara otodidak dari mbah gugel. Lihat aja deh betapa sederhana dan minimalisnya blog yang ku gunakan ini hehe…:D
Hmm….mungkinkah saya dengan ilmu yang masih cetek ini bisa merealisasikan proyek ‘moneteis blog’ tahun depan?
Saya selalu percaya setiap impian yang terlintas insya Allah masih berada dalam jangkauan tangan kecil saya. Hanya saja mungkin saya belum mengulurkan tangan dengan sempurna, mungkin saya perlu menjinjitkan kaki lebih tinggi lagi atau bahkan melompat agar bisa merengkuhnya.

Langkah-langkah Pencapaian
Proyek besar harus diawali dengan sebuah perencanaa. Demikian juga untuk merealisasikan proyek monumental 2014 ini saya perlu menyusun rencana dan langkah-langkah untuk mencapainya. Berikut adalah beberapa langkah-langkah sederhana yang saya siapkan untuk merealisasikan proyek tersebut:
1. Membuat blog khusus 'moneteis blog' tentunya.
2. Belajar blog lagi dengan lebih serius
3. Membuat jadwal dan target khusus untuk menulis artikel blog.
4. Mencari guru expert 'moneteis blog' 
5. Memiliki buku-buku dan referensi penunjang untuk merealisasi proyek ini. 

Yay...begitu kira-kira Proyek Monumental 2014 yang ingin saya realisasikan. Sederhana saja idenya yaitu bagaimana bisa berbagi dengan sesama dengan pena. Menulis dan berbagi tak kan pernah rugi.


                                                                              

Monday, 28 October 2013

Kuliner: Ayam Bakar Sukabumi


Bosan dengan olahan ayam yang itu-itu saja. Hari ini cari-cari resep ayam bakar yang maknyus dan mudah dipraktekkan. Akhirnya nemu aneka resep di tabloit NOVA edisi 1207. Naksir beraat dengan resep ayam bakar Sukabumi ini. Resepnya sederhana, bahan-bahannya mudah didapat dan murah. Hmm...sepertinya hasilnya juga maknyus deh. Yuuk dicoba! :)
Sumber: Tabloit Nova Edisi 1207/XXIV
Kuliner: Ayam Bakar Sukabumi
1 ekor ayam, dipotong menjadi 4 bagian. Disarankan untuk memilih ayam kampung yang masih muda, agar tidak cepat hancur ketika dipanggang.
1 buah jeruk nipis, ambil airnya.
Air lebih kurang 250 ml
1 sdm air asam jawa
4 lbr daun jeruk
2 cm lengkuas, memarkan
Garam dan gula secukupnya

Bumbu halus:
8 buah bawang merah
4 siung bawang putih
4 cm kunyit
1 sdt ketumbar

Pelengkap:
Sambal dan lalapan

Cara membuat:
·         Lumuri ayam dengan air jeruk nipis, kemudian diamkan selama lebih kurang 5 menit.
·         Rebus ayam bersama air, air asam jawa, daun jeruk, lengkuas, bumbu halus, gula dan garam hingga ayam matang.
·         Panggang ayam di atas bara api sambil diolesi dengan sisa bumbu hingga kuning kecoklatan.
·         Hidangkan ayam bakar dengan sambal dan lalapan.

Friday, 4 October 2013

Bu, Dendam itu Terbayar Sudah!

Dear Ibu…
Masih ingatkah ibu? Hari itu aku silaf menjawab pertanyaan ibu tentang pengertian non-fiksi. Suara ibu yang  lantang dan khas itu pun melengking memenuhi ruangan kelas kami.
“Pengertian non-fiksi pun tak tau?”
Duh Ibu,
Dadaku langsung gemetar mendengarnya. Badan terasa panas dingin. Aku merasa mataku mulai memanas, sekuat tenaga kucoba untuk menahan agar cairan bening itu tidak meleleh. Aku tidak lagi fokus dengan wejangan panjangmu selanjutnya. Pernyataanmu yang menyudutkanku itu sudah membuatku malu ibu. Aku merutuki kebodohan diri. Sungguh, duniaku terasa gelap seketika.
Aku tau, memang begitulah gaya mengajarmu Ibu. To the point, tanpa tedeng aling-aling. Engkau langsung menyatakan salah, ketika sesuatu itu salah. Tanpa bisa mengingatkan muridmu dengan kalimat bersayap yang enak didengar oleh telinga. Bermanis-manis di depan murid bukanlah sifatmu.
Namun, ketika pernyataanmu itu ditujukan untukku, sungguh aku terluka ibu…:(
Lama, peristiwa itu terus tersimpan dalam memoriku. Bahkan sampai sekarang pun aku belum bisa menghapusnya. Memori itu melekat begitu kuat, setiap saat mendakwaku sebagai murid yang gagal paham.
Namun tahukah Ibu, rasa malu, sedih dan terluka itu justru menimbulkan dendam positif dalam diriku. Semenjak hari itu, aku bersumpah dalam hatiku. Bahwa, suatu saat kesilafan yang membuatku malu di kelas itu akan berbalik menjadi sebuah kebanggaan. Akan kubuktikan pada ibu dan teman-teman semua bahwa aku tidak hanya tau apa pengertian non-fiksi. Aku tidak hanya hafal segudang teori tentang non fiksi. Tapi, aku bertekad akan menghasilkan karya-karya non fiksi sebagai bukti pemahamanku tentang teori-teori tersebut. Suatu saat namaku akan menghiasi karya-karya non fiksi di ranah literasi tanah air.
Akan aku buktikan bu, bahwa pemahamanku tentang pengertian non fiksi tak sebatas teori. Tak ada artinya bu, jika muridmu ini hanya bisa menghafal segudang teori yang tidak akan pernah habisnya. Ilmu akan memberi arti ketika bisa diaplikasikan dan memberi manfaat pada orang banyak. Dan semua itu akan aku buktikan di hadapan ibu.
Sekali lagi bu, dulu aku memang pernah silaf menjawab pertanyaan ibu. Tapi, bukan berarti aku gagal paham dengan ilmu yang ibu beri.

Dear Ibu,
Belasan tahun sudah berlalu dari peristiwa memalukan di ruangan kelas 3 IPA itu. Bayangan peristiwa itu masih lengket di ingatanku. Bahasa tubuh ibu masih tergambar jelas di ingatanku. Lengkingan suara ibu masih terngiang-ngiang di telingaku. Semua seakan baru kemaren terjadi.
Tapi, sekarang aku bisa tersenyum mengingat semua itu.
Ibu tau mengapa?
Karena, dendam positif itu sudah terbayar.
Bu, anak Ibu yang tidak bisa membedakan apa itu tulisan fiksi dan non fiksi sekarang sudah menghasilkan karya-karya non fiksi. Buku non fiksi karyanya sudah tersebar dan dibaca banyak orang di seluruh nusantara.  Dendam positif itu terbayar sudah!
Inilah sebagian diantaranya yang sudah mejeng di toko-toko buku besar di seluruh Indonesia:
Ketika Merasa Allah tidak Adil: Buku Non Fiksiku dengan Nama Pena 'Aura Husna' Diterbitkan Oleh GPU (2012)

Bawang Bawa Untung: Buku Non Fiksi Pertanian diterbitkan oleh Cahaya Atma (2011)
Cabe Sehat Berkhasiat: Buku Non Fiksi Pertanian diterbitkan oleh Andi Publishing (2013)

Kaya dengan Bersyukur: Buku Non Fiksi Menggunakan Nama Pena 'Aura Husna' diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama (2013)


Buku Nonfiksi 'Ketika Merasa Allah tidak Adil' Nangkring di Rak Best Seller

Sekarang aku ingin sampaikan pada ibu bahwa aku sudah bisa memahami apa itu tulisan non fiksi. Terimakasih bu, untuk teguran pedasnya yang telah melahirkan dendam positif dalam diri ini. Dendam positif yang menuntunku untuk menempuh jalan ini.
Sekali lagi terimakasih bu! Semoga Ibu sehat selalu dan terus bersemangat mengajarkan bahasa dan sastra pada generasi penerus bangsa.

Salam sayang
Ttd
Muridmu yang tak lelah mengejar mimpi

Tulisan ini diikut sertakan dalam Giveaway #DWTBAM

Thursday, 3 October 2013

Publishing Searching Author

 
PSA

Info lebih lanjut:
FB : Grasindo Publisher
Twitter: @grasindo_id
Web: www.grasindopublisher.com

Sunday, 29 September 2013

Khayalan-khayalanku Tentang Rumah Impian

Boleh dibilang aku adalah anak rumahan. Senang sekali tinggal di rumah. Bagiku rumah adalah tempat yang paling nyaman dan menyenangkan. Namun, di rumah bukan berarti aku tidak menghasilkan apa-apa. Justru di rumahlah aku bekerja untuk menjemput rezeki dan menghasilkan berbagai karya.
Karenanya, aku selalu berkhayal untuk membangun sebuah rumah impian. Aku membayangkan di rumah impian tersebut nantinya tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil, sedang saja. Dilengkapi dengan ruangan-ruangan sebagaimana rumah pada umumnya, namun ada satu yang membedakan rumah impianku dengan rumah-rumah lain. Yaitu memiliki ruangan khusus seluas minimal 4 x 4 meter sebagai ruang karya. Nah, ruangan ini akan menjadi tempat bagiku untuk merenung, mencari ide, menulis dan menghasilkan karya-karya positif bersama notebook mungil yang selalu setia menemaniku.
Tidak hanya itu, Aku juga berkhayal di ruangan itu saya tidak ingin sendiri. Aku ingin mengajak perempuan-perempuan lain berkarya di sana. Ya, Aku berkhayal sekalipun hanya bergerak dari rumah saya ingin ada orang lain yang berhasil saya rangkul. Bersama-sama berkarya dan berdaya. Ya, saya ingin menjadikan ruangan itu sebagai ruang karya, ruang kerja --jika tidak bisa disebut ruang kantor-- bersama perempuan-perempuan lain. Di sana saya mengajak mereka menulis, ngeblog, dan menghasilkan karya-karya positif yang tidak hanya menghabiskan waktu, tapi juga menghasilkan uang untuk diri dan keluarganya.
Aku juga berkhayal rumah impianku adalah rumah yang hijau. Artinya, pekarangan rumah impian itu harus hijau dan produktif. Sekeliling rumah impian tersebut penuh dengan tanaman cabe organik. Tanaman cabe itu tumbuh subur dengan buahnya yang besar-besar dan segar. Setiap sore aku akan duduk manis di beranda bersama keluarga kecilku sambil minum teh :) Pasti sangat menyenangkan sambil melihat tanaman cabe dengan buah yang mengangguk-angguk takzim dari tangkainya.
Saya juga berhayal rumahku adalah zero waste home. Artinya rumah impianku haruslah rumah yang bersih bebas sampah. Sampah anorganik seperti kertas, kaleng, botol dan plastik didaur ulang, yang laku dijual akan dijual atau digunakan lagi. Sementara sampah organik akan diolah menjadi pupuk cair organik dengan menggunakan teknologi biokomposter. Nah, pupuk cair organik ini kemudian dialirkan ke lahan cabe dengan mengunakan selang infus. Sehingga terlihat modern dan bersih hehe.....
Aaah..berkhayal itu memang indah. Apalagi menghayalkan rumah impianku nan hijau, nyaman dan dipenuhi oleh orang-orang yang kreatif dan produktif. Semoga suatu saat ini tidak hanya sekedar hayalan. Akan tetapi menjadi nyata meski harus tertatih untuk mencapai ke sana ihiiy....:)
Ini hayalanku, mana hayalanmu..??

Saturday, 28 September 2013

Tradisi Menuliskan Rasa Syukur untuk Kehidupan yang Lebih Sehat dan Bahagia



Resep sehat itu ternyata sederhana. Hanya dengan membiasakan tradisi-tradisi positif dalam hidup kita. Belakangan ini saya sedang berusaha untuk menerapkan tradisi sederhana sehabis sholat subuh. Bukan tradisi yang luar biasa sebenarnya. Sederhana saja. Habis sholat subuh, saya segera membereskan mukena kemudian mengambil sebuah buku dan pena. Selanjutnya, saya menulis di lembaran kosong pada buku tersebut.
Apa yang saya tulis?
Saya tidak menuliskan hal-hal yang berat. Saya hanya menuliskan hal-hal yang membuat saya bersyukur masih diberi kesempatan membuka mata hari ini. Saya menuliskan apa saja yang melahirkan setitik bahagia di hati. Saya menuliskan apa saja yang pantas saya syukuri, tanpa beban dan tanpa berpikir berat.

Contohnya:
  •   Alhamdulillah malam ini saya tidur dengan nyenyak
  • Terimakasih ya Allah masih mengizinkan saya menghirup nafas hari ini.
  • Kemaren berhasil menulis 2 artikel, alhamdulillah. Semoga hari ini bisa lebih
  •  Alhamdulillah pagi ini bangun sebelum azan, saya bisa sholat tepat waktu.
  •  Alhamdulillah, subuh ini diberi kekuatan untuk menulis. Biasanya habis subuh tidur lagi hehe… Semoga rezeki hari ini lebih melimpah dan berkah.

Ya, rasa syukur yang sederhana seperti itu saja yang saya tuliskan. Terkesan sederhana dan simpel kan? Tapiii, efeknya sungguh luar biasa. Setelah rutin menerapkan tradisi menuliskan rasa syukur setiap pagi, saya merasakan beberapa efek positif dalam hidup saya. Diantaranya yaitu:

Pertama: saya tidak lagi tidur habis subuh hehe… J *)tutup muka pake wajan :p
Ya, sebelumnya saya hobi sekali tidur habis sholat subuh. Rasanya kelopak mata ini beraaaat betul untuk dibuka. Bahkan tidak jarang saya tertidur di atas sajadah….upss :p Tapiii…, semenjak membiasakan diri menulis semua rasa syukur sehabis subuh kebiasaan itu jadi berubah. Saya tidak lagi tidur habis subuh. Melainkan, langsung memaksa diri untuk mengambil buku dan pena, kemudian menuliskan semua rasa syukur saya hari ini.

Kedua: saya merasa lebih bersemangat dan optimis menyambut aktivitas hari itu
Setelah puas menuliskan semua rasa syukur saya hari ini, biasanya saya langsung membuka laptop untuk melanjutkan pekerjaan yang masih terbengkalai. Saya percaya bahwa waktu-waktu setelah subuh adalah golden time, waktu-waktu emas. Saat yang paling tepat untuk mengerjakan hal-hal produktif untuk menjemput rezeki.
Karena menulis merupakan sumber penghasilan utama saya, maka menulis adalah aktivitas pilihan yang saya lakukan setelah subuh hingga matahari terbit. Setelahnya baru mengerjakan berbagai aktivitas rumah tangga yang tak kalah menyita waktu dan energi. Kemudian dilanjutkan dengan bersih-bersih, sholat dhuha dan kembali ke laptop hehe… Demikianlah rutinitas frelancer yang sering dianggap pengangguran ini J
Menuliskan rasa syukur membuat pikiran saya menjadi lebih refres dan ringan. Saya menjadi lebih bersemangat untuk melakukan rangkaian aktivitas demi aktivitas. Selalu optimis bahwa rezeki dari Allah selalu akan mengalir selama saya terus berusaha. Tidak peduli apakah bulan ini ada SPK yang ditanda tangani atau tidak. Tidak peduli apakah artikel yang saya tulis nantinya akan dimuat atau tidak. Yang penting saya sudah ikhtiar dengan maksimal, hasilnya biarlah menjadi ketetapan Allah. Saya yakin Allah Maha adil kok J

Ketiga: saya lebih enjoy menjalani hidup
Saya sekarang cenderung lebih enjoy, rileks dan tawakal. Mengapa? Karena setiap kali menginventaris hal-hal yang pantas saya syukuri setiap hari, saya merasa bahwa Allah begitu sayang sama saya. Disaat ibadah dan ketaatan saya masih secuil, Allah justru melimpahkan begitu banyak nikmat-Nya pada saya. Tidak jarang saya menemukan bahwa di balik setiap musibah yang saya alami ada hal-hal besar yang diselamatkan oleh Allah untuk saya melalui musibah tersebut. Jadi, masih pantaskah saya untuk mendustakan semua nikmat-Nya.
Jadi, sekarang saya cenderung lebih tenang ketika mengalami sebuah musibah. Saya berusaha melihat apa sebenarnya yang ingin ditunjukkan Allah di balik musibah ini. Sehingga saya menjadi lebih enjoy menjalani hari demi hari. Karena saya yakin Allah hanya menginginkan yang baik-baik saja untuk saya.

Keempat: Saya merasa lebih sehat.
Semenjak rutin menuliskan rasa syukur dan meninggalkan kebiasaan tidur setelah subuh, saya merasa jauh lebih sehat. Biasanya kepala saya pusing ketika bangun pagi setelah tidur ronde kedua, alhamdulillah sekarang tidak lagi. Tubuh pun terasa lebih sehat karena setiap hari menghirup udara segar dan menyongsong matahari pagi dengan penuh semangat.
Dan taraaa…
Ternyata manfaat yang saya rasakan dari tradisi menulis rasa syukur secara rutin ini juga sudah dibuktikan secara ilmiah. Seorang profesor bidang psikologi dari Universitas of California, Amerika Serikat yaitu Prof. Robert Emmons merupakan pakar terkemuka dalam bidang penelitian “sikap syukur”. Dari beberapa hasil penelitiannya Prof. Emmons melaporkan bahwa seseorang yang setiap hari mencatat rasa syukur atas semua kebaikan yang diterimanya, cenderung akan lebih teratur berolah raga, jarang mengeluhkan gejala penyakit dan merasa bahwa secara keseluruhan kehidupannya lebih baik.
Sebagai seorang muslim saya pun meyakini akan janji Allah dalam Al quran:
Dan (ingatlah) ketika Tuhan-mu berfirman: ‘sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azabku sangat berat.” (QS. Ibrahim: 7)

Referensi: 
Sriherwanto, C. 2008. Temuan Ilmiah Modern, Syukur Menambah Nikmat. Majalah Sabili Edisi 05 TH. XVI. Hal: 50-53.
 

Tulisan ini dibuat untuk mengikuti lomba blog dari www.resepsehat.com persembahan SunCo Minyak Goreng Yang Baik. Tulisan adalah karya saya sendiri dan bukan merupakan jiplakan

Menjejali Anak SD dengan Les Tambahan?

Tema CollabBlogging pekan ketiga ini bagi saya cukup sulit yakni tentang perlu menjejali anak SD dengan les tambahan? Mengingat saya be...